Acara IKA GP Ansor Jatim yang dibubarkan sejumlah anggota Banser (FOTO/IST)

Pembubaran Acara IKA GP Ansor, Abah Muchid : “Memperlakukan Cak Anam, Dengan Cara Tidak Sopan, Jauh Dari Etika Kader Ansor/Banser”

H. Abd Muchid, SH, Kasatkornas Banser 2011 (FOTO/IST)

MOJOKERTO (jurnalMojo.com) — Beredarnya video pembubaran acara yang mengatasnamakan Ikatan Alumni Gerakan Pemuda Ansor (IKA GP Ansor) Jawa Timur, disejumlah media sosial, memantik reaksi pro dan kontra oleh sesama kader Ansor – Banser.

Apalagi, dalam video yang berdurasi 2,45 menit, terlihat jelas, sejumlah Banser memperlakukan Cak Anam, (Mantan Ketua PW GP Ansor Jatim ) dengan cara yang tidak sopan, jauh dari etika kader Ansor/Banser.

Perdebatan pro kontra di dalam percakapan WhatsApp Group hingga diwilayah publik melalui pemberitaan media massa online, tidak hanya oleh struktural Ansor Jawa Timur. Mantan Ketua PW Ansor Jatim dan bahkan Pimpinan Pusat GP. Ansor ikut bersuara terjebak ruang ‘konflik’ antar sesama kader dipermukaan.

Salah satunya adalah H. Abd Muchid, SH, Kasatkornas Banser 2011 – 2016. Ia mengaku prihatin atas insiden pembubaran acara yang digelar IKA GP Ansor Jawa Timur.

“Melihat situasi tersebut, saya kader Ansor dari tahun 1983. PAC GP Ansor, Ketua PC GP Ansor 2 periode, Wakil Ketua PW GP Ansor hingga menjabat Kasatkornas Banser 2011, sangat prihatin dan ironi, apalagi hingga adanya muncul kalimat ‘Illegal’ yang sangat tidak etis, tidak elok dan sangat melukai perasaan,” ujar Abah Muchid, sapaan akrab H. Abd Muchid, SH kepada sejumlah awak media, Sabtu (18/6/2022).

Tentu, sebagai auto kritik bersama, lanjut Abah Muchid, keberadaan atau eksistensi IKA GP. Ansor – Banser masih perlu dikaji bersama legalitas eksistensinya dalam jangka panjang. Dengan pemikiran-pemikiran yang jernih dan pendekatan komunikasi yang baik tanpa harus menempatkan kecurigaan, tuduhan, asumsi yang tidak berdasar hanya mungkin kekhawatiran perbedaan sikap menjelang agenda politik tahun 2024.

Menurut abah Muchid, semestinya struktural pimpinan Ansor memberikan apresiasi penghormatan kepada seluruh kader Ansor-Banser, utamanya kepada para senior-senior yang masih semangat sebagai wujud gerakan kritik auto kritik bersama. “Terkecuali jika gerakan dengan mengatasnamakan Ansor-Banser tersebut dinilai bertentangan secara ideologis, maka tidak ada pilihan harus disikapi secara tegas berdasarkan prinsip-prinsip organisasi,” tegasnya..

“Janganlah kita memberikan pernyataan yang skeptis, curiga yang berlebihan yang nota bene terhadap sesama kader atau justru senior-senior Ansor-Banser yang juga pernah berjasa untuk organisasi ini pada zamannya,” sambungnya.

Abah Muchid mengingatkan, bahwa GP. Ansor bukan organisasi politik, namun seluruh kader memiliki peran dan kesempatan, bahkan kewajiban untuk berpartisipasi aktif menyikapi fenomena politik kebangsaan dengan berbagai latar belakang kader partai politik. sebagai wujud komitmen menjaga sistem demokrasi, mengawal kharokah kebangsaan Annahdliyah Ala Ahlussunnah Waljamaah.

Selanjutnya, kata Abah Muchid, sebagai auto kritik bersama sahabat-sahabat struktural organisasi Pimpinan Pusat Ansor-Banser hingga struktur yang paling bawah, harus membangun komunikasi yang baik terutama terhadap para senior-senior dan jangan ada sikap ‘jumawa’ apalagi sang ketua umum yang saat ini memiliki kekuasaan birokrasi.

“Kemudian, roda kepemimpinan organisasi yang tertib, taat asas, taat aturan PD/PRT juga harus lebih diperhatikan. Jangan sampai ironi, mengatakan kumpulan alumni-alumni illegal, namun justru masa kepengurusan telat lewat atau sudah habis, jadi siapa sebenarnya yang illegal? Saya ini sudah purna dalam struktural Ansor-Banser. Alhamdulilah selama ini selalu taat dan patuh pada aturan utamanya terhadap masa khidmat kepengurusan. Dan Saya heran dengan kepemimpinan Ansor pusat saat ini,  setahu saya kongres sebelumnya pada tahun 2016 maka kalau dihitung masa khidmat seharusnya telah berakhir pada tahun 2020. (selama 5 tahun). Okelah, mungkin karena situasi kondisi pendemi sehingga tidak dapat dilaksanakan secara tepat waktu,” bebernya.

Namun lazimnya, dengan telah dapat dilaksanakannya Muktamar NU, maka Pimpinan Pusat Ansor yang juga telah habis masa khidmatnya, dapat pula melaksanakan Kongres yang merupakan agenda 5 tahunan.

“Saya lihat Sturuktur kepemimpinan Ansor Wilayah Jatim dan para Pimpinan Cabang tidak ada atau tidak berani melakukan kritik ini, sangat bahaya dapat dikatakan sedang ada upaya membangun sistem ‘oligarki’ di tubuh Ansor-Banser, anti kritik dan siapapun yang kritis akan dihabisi. Wah dapat saya katakan bentuk degradasi organisasi bagaimana mau menuju organisasi modern kalau masih ada cara-cara oligarki, primordialisme,” tutur pria yang juga Ketua PW PSNU Pagarnusa Jawa Timur ini.

Masih menurut Abah Muchid, kaderisasi, regenerasi adalah keniscayaan tidak boleh dihambat atau ditunda-tunda, hal ini dapat merusak sistem tata kelola organisasi dan dapat dikatakan pelanggaran terhadap PD/PRT.

Abah Muchid menegaskan, jangan sampai kondisi ini menimbulkan asumsi ‘liar’ sebagai bentuk upaya untuk melanggengkan kekuasaan, atau justru untuk mengantarkan kepentingan politik ‘perorangan’ semata menuju agenda Tahun Politik 2024??

Dan yang lebih ironi lagi, kata Abah Muchid, banyak dari sekian pengurus di Pimpinan Pusat Ansor yang telah menduduki dalam kepengurusan di PBNU, baik dalam pengurus harian atau lembaga. Tapi justru juga masih aktif dalam kepengurusan pimpinan pusat Ansor ini jadi seperti kacau.

“Anehnya, saya juga mendengar justru Pimpinan Pusat sedang gencar-gencarnya banyak melakukan pergantian pengurus (reshufle) di beberapa wilayah termasuk Jawa Timur, karena alasan rangkap jabatan atau tidak ada waktu untuk mengurus organisasi. Hal ini sangat tidak baik dan tidak sehat dalam kepemimpinan organisasi. Justru bukan itu yang saya lihat sebenarnya, ketika melihat ada kader-kader baik bahkan aktif selama ini justru di reshufle dan yang sama sekali atau jarang aktif, pasif justru dipertahankan dalam kepengurusan dan atau bahkan tidak atau belum pernah aktif di Ansor sama sekali misalnya,” tutur Abah Muchid.

Abah Muchid menilai, kondisi saat ini adalah cerminan carut marutnya dalam kepemimpinan kepengurusan Ansor sebagai tanda bahwa memang Kongres harus segera dilaksanakan untuk penyegaran, menyelamatkan keberlangsungan organisasi Ansor yang lebih sehat, solid dan bisa dapat saling menghargai dan menghormati sesama keluarga besar Ansor-Banser. (jek/*)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar