Fenomena Asmara

Niat hati ingin melimpahkan pandangan tentang fenomena kekinian, tapi sepertinya pandangan tak memberikan kesempatan melimpahkan isi fikiran. Ia hanya berikan sesuatu balok kecil hitam bertuliskan “standard AE7” atau yang biasa disebut ‘pulpen’ oleh bocah cilik samping Mahkamah Sekretariat.

Tidak banyak mengambil waktu, mencoba memberanikan diri untuk mengambil barang itu tergeletak dibelakang pintu, sedikit dihiasi sarang laba-laba yang aku “lap”. Kemudian supaya tidak merasa kesepian aku mencarikan pasangan layak untuknya yakni sehelai kertas terbaring yang kutemukan dilantai jalur kaki kotor melintas. Tak apa ku paksakan toh tak menjadi hitam sudah barang tentu kekunung-kuningan sedikit coklat.

Sebut saja bagian ini merupakan latar belakang, jangan juga menuntut ada pendahuluan. Karena kita belum mendapat pertemuan, bukan begitu aduh wahai pujangga? Kata jiwa yang selalu ingin diikut sertakan pada penulis. Nampaknya, jiwa ini butuh perhatian khusus dari setiap lalu lalangnya. Dengan begitu fenomena yang telah dan sedang dihadapi akan mudah terekam oleh raganya.

Aduh … jiwa yang tenang, aku bukanlah seorang Menteri yang fotonya terpajang di mesin ATM, diriku tak mentereng bak calon-calon Presiden, aku bukanlah orang yang dipercaya menjadi wakil-wakil orang banyak, aku pun tidak besenjata, tak berseragam dan belum bertoga. Apalagi goodlocking yang memiliki motor tinggi jika turun hujan membuat ‘becek’ pakaian belakangmu, jangan kau tanya ban empat itu padaku. Apalah arti hidupku bagaikan butiran kerikil dimatamu. Tapi … aku siap menjadi Jokowi dihatimu.

Setiap bunyi handphone menggetar seakan getaran semeru menyerbu kasih, tidak terbayang satu langkahan kaki mengikis tenaga. Demi meminimalisir stamina ku tanam itu barang tak lekang ruang dan waktu; di kamar, kelas, toilet bahkan ketika berbicara dengan orang lain aku masih menunggu notifikasi sekaligus membalas pesan darimu kasih, begitu tak berlakhlaknya aku menurut realita tapi tidak menurut cinta.

Aku yang selalu memantau aktifitas keseharianmu melalui barang palsu itu demi melihatmu yang “palsu”. Aku adalah korban kepalsuan kopimu yang ganda. Bagaimana bisa akal menerima akan hal itu. Namun “jokowi” akan selalu berbaik sangka akan kritikan jiwa lain, barangkali bangku sisa yang belum selesai dirapihkan.

Setiap insan pasti memiliki kisah kasihnya masing-masing mulai dari saat mengejar, mendapatkan sampai selesai atau hanya dapat mengejar belum bisa mendapatkan atau bahkan mengejar sampai mendapatkan tidak sampai selesai itulah dinamika asmara. Jika dikaitkan dengan fenomena kekinian kisah seorang pasangan yang berujung tragis bukankah itu fenomenal? Sebuah peristiwa yang diukur secara moralitas jelas salah besar.

Namun akankah senada menurut kaca mata hukum yang berlaku?
Sama dengan kisah pahit di atas fenomena asmara yang berkembang namun tak terpublikasi. Karena tidak sama sekali menyentuh persolan personal terhadap public. Kisah cinta seseorang tidak dapat diintervensi oleh siapapun. Oleh karenanya bukan kisah kasihnya yang dapat dipenggal oleh hukum, tapi perbuatan atau perilakunya. Bukan subjek pelaku tapi objek akan peristiwa tersebut.

Tapi kenapa adik … kamu membenci dia yang berseragam? Apakah setiap yang berseragam seperti dia? Kenapa kamu tidak pernah terfikiran akan psikologi pelaku dan keluarga pelaku? Apakah kau tak percaya pada penegak hukum kita? Betapa gawatnya ketika hukum telah kehilangan nyali.
Dan kenapa kau sangat memuji korban? bukankah berpacaran, zina, aborsi dan bunuh diri sangat dilarang oleh agama kita dan hukum di negara kita? Dan kenapa kau baru menyadari saat ini bukankah peristiwa atau fenomena diluar sana banyak yang tak kau ketahui dengan alur cerita yang sama?
Mari kita sama-sama serukan keadilan untuk mereka yang tertindas dan kita do’akan semoga keadilan akan tetap utuh. Terkhusus kepada hati yang sedang runtuh.

Moeltazam
Ketua Umum HMI Komisariat Hukum Cabang Kota Bogor

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar