Adinda Bersemayam Dalam Diam

*Oleh Moeltazam

Seorang pekerja kuli bangunan merengut dengan pekerjaan yang digelutinya. Tampang masam tergambar oleh ketawa ngecer-nya atau senyum tipisnya. Pekerjaan yang tidak sembarang orang dapat memikulnya, Ia habiskan waktu pagi sampai sore bersentuhan dengan warna-warni bahan bangunan. Orang lain memangku handphone, sedangkan Ia mencangkul beton. Sebagian orang menyalakan klakson, Ia hanya bisa menyambung paralon. Hampir setiap pagi tidak pernah sarapan, sebagian banyak orang tidak mampu sedemikian. Di waktu istirahat kerja Ia mencari warung makan, tidak warung mengantarkan makanan ke meja makan. Ia pulang sendirian, tidak melalui pintu depan, padalah Ia dinanti-nantikan Sang mandor bangunan, yang olehnya di panggil Paman Sir.

Paman Sir baru bekerja satu hari setelah Ia diundang kuli senior. Sang mandor juga tertarik dengan ketulusan, keahlian kerja Paman Sir. Selain itu Paman Sir orang yang terkenal tampan, ada yang menyebutnya manis. Kebetulan Sang mandor seorang gadis.

Secara singkat, mandor berhak menilai secara objektif kredibilitas pekerjanya, namun jika sebaliknya, dikhawatirkan menimbulkan cemburu sosial. Akan tetapi beda halnya jika mengenai urusan perasaan secara personal, dengan catatan sangat diperlukan untuk  menjunjung etika demi terciptanya kondusifitas.

Nama mandor itu sedikit berbelit-belit dalam pengucapan, setidaknya jika diucapkan satu kali, orang-orang sulit menerima amnesianya. Padahal “tidak sebaik yang orang ucapkan dan tidak seburuk yang terlintas di benaknya”. Para kuli ada yang memanggil sebutan “nyonya”, “mbak”, atau umumnya sang mandor. Sebetulnya mudah saja, hanya ada tujuh suku kata. Misal: Ahmad Multazam Es Ha atau yang lebih mudah; Multazam Duba-Duba. Baiklah, sepakati untuk memanggil dengan sebutan; Adinda. Hanya bisa memanggil belum bisa meminang.

Sulit bagi paman Sir mengingat namanya, tapi mudah untuk menyentuh perasannya. Buktinya setelah 3×24 jam Adinda mencari biodatanya sampai ke jejak media. Ada faidahnya juga meskipun terkadang bermunculan berita bohong. Tapi untuk kali ini yang tersematkan dengan namanya, Ia amini. Tak peduli abu-abu, di setiap sudut medsos terhipnotis warna putih seragam kerja pekerjanya.

Adinda mempunyai karakter tersendiri dengan orang-orang lain sebagaimana umumnya. Bagaimana tidak, acap kali seseorang terjatuh pada jurang asmara, yang Ia lihat hanya sekilas seragam kerja produk sendiri? Karena nyonya Adinda tidak menyediakan CCTV untuk memantau paman Sir. Ia pun jarang sekali bersentuhan langsung dengan bawahan. Pantas saja, hanya sekilas membekas, menghampiri sekujur psikis Adinda.

Di hari ke empat Adinda memberanikan diri untuk meminta kontak yang dapat dihubungi dengan berbagai alasan kepada kuli senior. Si kuli tersebut tidak paham apa yang dikatakan mbak Adinda karena Ia menyebut “manis legit”, jelas membingungkan kuli senior.
“Siapa yah Mbak?”
“Itu teman kamu yang baru bekerja empat hari,” kata Adinda.
“Oh … itu yang dinanti-nanti Mbak, namanya Sir, sebentar yah.”

Setelah kontak whatshaap milik tetangga paman Sir itu mendarat di pangkuan Adinda, tidak gercep dieksekusi. Ada beberapa alasan Adinda sengaja akan hal itu. Pertama, Adinda tahu nomor kontak itu bukan miliknya dan ada di grup wa: ‘serikat pekerja adinda’ khawatir apabila di telepon bukan bahagia menghampiri tapi amukan, karena posisi sudah tengah malam.

Kedua, Adinda melawan arus perasaan tanpa alasan, Ia anggap hanya sebagai angin belaka yang secara pribadi Ia sadar sebagai ‘manusia baper’. Sedangkan yangg ketiga, Adinda ingin mencintai dengan diam karena dalam diam tidak ada penolakan. Meskipun pada akhirnya Ia muntahkan dengan permulaan teleponnya;

“Assalamualaikum.” Lanjut Adinda menyambung, “apakah saya boleh berbicara dengan Paman Sir.?
“Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, Iya, dengan siapa yah Mbak?
“Saya Adinda, mandornya Paman Sir, ingin memberikan info kalau besok kerja libur dulu, mohon di kasih tahu ya Pak.”
“Loh, kenapaa di liburkan yah Mbak?”
“Iya, saya sedang tidak ada modal untuk melanjutkan proyek ini, jadi untuk sementara saya mengumpulkan modal nikah dulu,” kata Mbak Adinda sang mandor.

Tak lama dari itu, Paman Sir sudah ada dibelakang Sang Tetangga tersebut, menyimak percakapan dengan Nyonya Adinda tentangnya. Sambil memijat rokok terbitan Kudus Jawa Tengah yang kemudian membakar sampai berbunyi “pletek, pletek”.

“Ini Bro, mandor kamu nelpon, katanya besok kerja libur dulu,” kata tetangga itu. paman Sir hanya diam fokus menyentik ujung rokok membara. Nampaknya, Paman Sir tidak peduli itu. Ia menganggap keputusan mandor hak Adinda sebagai mandor.
“Oke Bro, terima kasih infonya.” Kata Paman Sir.
“Kamu kecewa Bro? muka kamu selalu masam begitu”
“Lah, kenapa harus kecewa Bro, dia mandor saya, mau tidak mau ikuti saja, dia pun berhak mengangapku sebagai tampang masam sebagai cobaan baginya,” begitu Paman Sir menjelaskan muka masam bukan kecewa akan kehidupan pahinya, melainkan bawaan lahiriyahnya.

“Sepertinya dia suka ke kamu Brow, dia banyak tanya mengenaimu, bahkan minta foto ataupun videomu Brow,” kata si tetangga banjir ucapan.

“Terserah Brow, apa kata Adinda aja. Mau suka, mau benci itu hak Nyonya mandor ha ha ha,” sambil ketawa menutupi wajah masam manis legitnya.
Ternyata telepon Adinda dengan tetangga belum ditutup, Adinda mengintai pembicaraan kedua sahabat karib tersebut untuk mengetahui lebih dalam sosok Paman Sir. Adinda mengambil kesimpulan bahwa Paman Sir adalah sosok yang begitu hebat. Dengan kesederhanaan, ketenangan dan kemurnian hatinya semua yang terjadi di muka bumi ini, kehidupan yang dianggap beban hidup oleh sebagian orang, oleh paman Sir;

“Semuanya sudah garis taqdir, kita tak mampu melawan, jalani, nikmati dan syukuri saja,” terang Paman Sir.

Bersambung

* Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Hukum Cabang Kota Bogor

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar