Hati Nurani Rachmat

*Oleh Moeltazam

Bang Rachmat boleh dibilang seorang rakyat impian. Tinggi sedang, dan berat pun sedang. Pakaian, masker, sepatu putih. sulit membedakan dengan warna kulitnya. Terlihat dahi berkilau, tertutup masker putihnya. Ia suka yang berwarna cerah pertanda batin tentram. Setiap pagi hampir tidak pernah absen lari pagi. Entah ujung pelariannya sampai titik mana, tapi pasti pangkalnya dari rumahnya. Setiap dua minggu sekali ia menjebloskan tongkat-tongkat golf ke bagasi mobil, meluncur menuju lapangan di kaki bukit.

Dengan muka berseri-seri ia pukul bola malang itu hingga melambung ke udara dan terpelanting jatuh ke padang rumput, untuk kemudian terguling-guling masuk lubang. Begitulah info dari masyarakat yang se-RT dengannya.

Karakter yang disegani dan dihormati oleh masyarakat membuat Bang Rachmat tidak sepi dengan pengikut. Ia memperoleh 1.074 pengikut. Jika dihitung dari jumlah RT.002, 80% Bang Rachmat mendapat dukungan kuat jika ia mencalonkan sebagai ketua RT. Tapi saya tidak mau terjebak dengan lembaga survei itu, karena belum tentu akurat dan akuntabel. Budaya terkesan dengan ‘bungkus’ tanpa tahu isi, itulah stereotip masyarakat masa kini. Oleh karena itu, saya ingin mengetahui lebih dalam tentangnya. Kebetulan saya dan Bang Rachmat sama-sama bekerja, tepatnya di bagian “ngetik”, –saya lupa nama pekerjaannya, saat ini fokus saya cuma ke Bang Rachmat– di kelurahan meskipun kita berbeda RT.

Bang Rahcmat menyelesaikan tugasnya dengan fokus tanpa banyak bicara dan menghiraukan bisikan tak karuan. Sambil mengetuk-ketik layar dihadapannya, menyampaikan angka-angka kembar melalui kotak kecil yang di copy-paste Ketikan “tab” kemudian “kanan” saya peroleh darinya supaya efektif dan efisien. Saya tidak berani bertanya karena kewibawaan tercantap jelas dalam mata tajamnya. Saya hanya menanyakan “mau dibantu Bang?” Ia menjawab “boleh, bantuin yah”. Gaya bicaranya santai, lembut tanpa mengeluh sedikit pun atas pekerjaannya. Ia anggap pekerjaan yang digeluti bukanlah suatu hal bersifat timbal balik, tapi sebuah pengabdian kepada umat dan bangsa. Pekerjaan yang menghabiskan waktu berhari-hari terasa 8 jam melihat sosok beliau. Tak salah anggapan orang-orang terhadapnya.

Sayangnya, sampai saat ini saya mesih meragukan apa yang dikatakan banyak orang. Meski dengan mata kepala dan perangkat saya tujukan pada beliau. Ada ungkapan “semua orang dapat mengukur kedalaman samudera, tapi tidak akan mampu mengukur isi hati seseorang”, itu benar. Tak perlu repot-repot meraih kebenaran melalui pengadilan. Sebelum angkat kaki dari gedung kelurahan, saya meminta kontak WA beliau berkehendak untuk singgah di kediamannya. Saya meminta ke teman beliau juga teman saya.

Sampailah ke rumahnya, kebetulan ia sedang membaca buku tebal. Nampaknya, tidak salah jika dikatakan buku tentang Ilmu Hukum. Konkret dan cocok saya dapat berdiskusi tentang hukum. Saya Cuma berdiam diri sambil mendengarkan desas-desus materi Hukum Tata Negara yang di baca, layaknya “ular berbisa” menyemburkan keilmuan hingga terbius mengantuk. Mencoba untuk memaksakan mata terbuka, ternyata ia membahas; perselisihan partai politik dan penyelesaiannya. Sambil menunggu beliau selesai, kopi hitam mendarat dihadapan, tutur menemani gorengan gurih terlihat bening. Bang saya minum kopinya ya?
“Oh, iya, Mul. Maaf terlalu fokus ini hehehe ….”

“Kalau boleh tau, gimana isinya bang?” Saya memberanikan diri untuk bertanya.
“Begini”, sambil menyeruput kopi. “Dimakan gorengannya,” menawarkan.
“Gimana bang?”.

“Saya nggak tau apa-apa Mul, Saya cuma membaca untuk mengisi otak kosong ini,” ucapnya merendah.

Kalau begitu saya mengalihkan pertanyaan tentang anggapan masyarakat tentangnya, dengan memancing pertanyaan-pertanyaan:
“Bang, apa benar, Abang mau jadi Ketua RT? Aku rasa abang cocok jadi ketua Camat sekalipun”, kata saya.

“Begini Mul, itu hanya apa yang dibatinkan orang saja. Kalau dalam hukum ada istilah:Cogationis poenam nemo patitur”, maksudnya tak ada seorang yang dapat dihukum atas apa yang dipikirkannya. Jadi, jangan dianggap terlalu serius”, Bang Rachmat mengeluarkan suara lembutnya.
“Iya Bang, ‘negara tidak mampu memfasilitasi rindu, tapi mencampuri kita saat bertemu’, seakan-akan masyarakat tidak berani mengucapkan langsung, tapi ketika kita bertemu menurut mereka kita cocok jadi pasangan Pilkada tahun depan.”, kata saya seolah mengerti tentang hukum yang abstrak itu.

“Iya betul, dalam perselisihan partai politik pun diselesaikan dalam internal parpol melalui Mahkamah Partai atau sebutan lain. Negara tidak berhak mencampurinya, kecuali merasa kurang puas dengan putusan Mahkamah Partai bisa diujikan ke Pengadilan Negeri dan dapat mengajukan kasasi ke MA.”

“Kalau begitu, kita selesaikan di sini Bang, gimana Abang bersedia tidak, maju Pilkada tahun depan, saya sebagai pendamping Abang?” tanya saya kepadanya langsung berdiam.

Dengan segala kerendahan hati, jauh dari anggapan masyarakat RT.02 dan RT.01 saya, tidak tepat bahkan jauh dari itu. Tidak untuk mengukur kedalaman hati beliau. Sedikit saya lukiskan Bang Rachmat orang yang tangguh dan tidak tergiur dengan segala jabatan apapun. Ilmu menumpuk tidak menjadikan angkuh dan sok hebat, bagaikan padi semakin tinggi semakin menunduk.

Kehidupan jauh dari kemewahan, menerima gaji pekerjaan secukup takaran yang ia dan keluarga makan, selebihnya ia sedekahkan. Perangai yang baik, patut di contoh, mengambil kisah dari Hati Nurani Rachmat. “Gimana bang,” tanya ku lagi. Bang Rachmat menjawab sebagaimana perkataan Sayyidina Ali RA:

“Aku tak sebaik yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk yang terlintas dihatimu.”

*Mahasiswa Fakultas Hukum UIKA.
Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Hukum Cabang Kota Bogor

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar