Rumah salah satu warga di Dusun Brangkal, Desa Brangkal yang masih tergenang air setinggi 50 cm (Elok Aprianto/jurnalMojo.com)

Rumah Warga Desa Brangkal Masih Tergenang Air Banjir

Kondisi tembok rumah yang ambrol akibat banjir (Elok Aprianto/jurnalMojo.com)

JOMBANG (jurnalMojo.com) — Kondisi banjir yang melanda beberapa Desa di Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, Jawa Timur, sudah mulai surut. Bahkan air banjir yang sempat merendam 6 Desa, kini sudah berkurang.

Berdasarkan data dari pihak Kecamatan Bandarkedungmulyo, per tanggal 12 Februari, atau lebih tepatnya pada hari ke 9 banjir. Dimana sebelumnya banjir ini terjadi di Desa Bandarkedungmulyo, Brangkal, Brodot, Pucangsimo, Banjarsari, dan Gondang Manis.

Kini sudah mulai berkurang. Banjir saat ini hanya ada di tiga Desa. Yakni Desa Bandarkedungmulyo, Brangkal dan Pucangsimo.

Dari ketiga titik tersebut, genangan air di Desa Bandarkedungmulyo, terjadi di wilayah Kedunggabus, Kalipuro dan Kerapak.

Di Kedunggabus, ketinggian air masih mencapai 30 cm. Sedangkan di Kalipuro, air mencapai ketinggian 50 cm. Dan di wilayah Kerapak, air mencapai ketinggian 40 cm.
Sedangkan kondisi banjir di Desa Pucangsimo. Genangan air masih tampak di Dusun Simo. Dimana ketinggian air mencapai 20 hingga 30 cm.

Dan untuk yang terakhir. Kondisi air banjir di Desa Brangkal. Genangan air banjir berada di tiga titik. Yakni, di Dusun Brangkal, Dusun Proko dan Dusun Kedungsari. Dimana ketinggia air di Dusun Brangkal masih setinggi 50 cm.

Sedangkan di Dusun Kedungsari, ketinggian air mencapai 30 cm. Untuk titik tertinggi banjir terjadi di Dusun Proko. Dimana ketinggian air mencapai sekitar 80 cm.

Menurut keterangan Fadhilatin (55) warga RT 01 RW 02, Dusun Brangkal, Desa Brangkal, banjir di wilayah Desanya terjadi mulai hari Sabtu (06/02) kemarin. Air banjir datang pada pukul 12 siang. Air setinggi pinggang orang dewasa masuk ke dalam rumah. Hal ini membuat ia mengungsi.

“Pukul 12 siang itu puncaknya pak. Air setinggi pinggang masuk ke dalam rumah. Ya langsung ngungsi ke depannya Balai Desa selama 3 hari pak,” terangnya pada sejumlah jurnalis, Sabtu (13/03/2021).

Meski sebelumnya sempat mengungsi selama 3 hari, Fadhilatin sempat kembali ke rumahnya, saat air banjir sudah sedikit surut. Namun, setelah surut 3 hari, air kemudian naik lagi, dan ia terpaksa harus mengungsi kembali.

“Sudah 2 hari ini kembali ke rumah. Kemarin itu segini pak terus di diesel dekatnya jembatan sebelah timur, sekarang sudah surut. Tapi ya tetap air masih masuk rumah, setinggi mata kaki,” paparnya.

Saat ditanya ada berapa rumah terdampak banjir, ia mengaku tidak mengerti secara detail, namun ia memperkirakan ada puluhan rumah di Dusunnya yang terdampak banjir. “Ya mungkin ada puluhan pak,” tegasnya.

Ia menyebut banjir seperti tahun ini sebelumnya memang pernah terjadi pada tahun yang lalu. Namun, banjir saat itu tidak terparah tahun ini.

“Ya tahun kemarin banjir pak, waktu tanggul jebol. Tahun kemarin banjir dua hari saja, dan tahun ini paling lama, sudah seminggu lebih,” tukasnya.

Sementara itu, air banjir yang terjadi di Desa Brangkal, tidak hanya merusak tanaman padi. Air banjir juga merusak rumah Muhamad Rokhim, Mariyono dan Hadi Puryono, warga Dusun Proko, Desa Brangkal.

Menurut keterangan Sriwahyuni (34), pada hari Jumat (07/02) air yang datang disertai arus yang deras, seketika itu masuk ke dalam rumah. Air yang masuk membuat pondasi rumah tergerus. Dan dinding rumah ambrol.

“Airnya masuk mengalir ke dalam, terus menggerus pondasi, dan semua orang takut, lari menyelamatkan diri,” pungkasnya .(elo/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar