Tersangka saat diamankan Polisi di Polres Jombang (Elok Aprianto/jurnalMojo.com)

Selundupkan Pil Koplo ke Lapas IIB, Segini Harganya di Dalam Lapas

Pil koplo yang dimasukkan ke dalam buah salak (Elok Aprianto/jurnalMojo.com)

JOMBANG (jurnalMojo.com) — Seperti diberitakan sebelumnya, ribuan pil koplo diselundupkan Vina (33) ke Lapas Kelas II B Jombang, Jawa Timur, dengan cara memasukkannya ke dalam buah salak.

Ia nekat selundupkan ribuan pil koplo dalam lapas. Lantaran obat keras berbahaya (Okerbaya) itu dijual lagi di dalam lapas oleh suaminya, dengan harga dua kali lipat.

Wanita asal Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, Jombang itu sudah dua kali menyelundupkan buah salak berisi pil koplo ke Lapas Jombang.

Aksi pertama dilakukan olehnya pada bulan Juli lalu sebanyak 900 butir. Ibu tiga anak ini mengirimkan barang haram tersebut kepada suaminya, Hermanto (35), yang sudah dua tahun mendekam di penjara karena kasus sabu-sabu.

“Jumat kemarin kami konfrontir keduanya. Pasutri ini sudah mengakui bahwa sudah dua kali mengirim ke sana (Lapas Jombang, red). Yang pertama lolos, pengirim sebanyak hampir 900 butir,” kata Kasatreskoba Polres Jombang, AKP Moch Mukid, pada sejumlah jurnalis, Selasa (01/09/2020).

Lebih lanjut Mukid mengatakan, pengiriman ke dua yang dilakukan Vina pada Senin (24/08), digagalkan petugas lapas. Bahkan, paket salak berisi pil koplo itu berhasil dibongkar oleh petugas Lapas saat menggeledah barang bawaan Vina. “Dari situ, petugas Lapas menemukan 1.815 butir pil koplo,” ungkap Mukid.

Dari keterangan pelaku dan suaminya, sambung Mukid, ribuan pil koplo itu akan diedarkan di dalam Lapas. Begitu juga dengan kiriman yang pertama, juga diedarkan di dalam Lapas.

Hermanto menjual pil koplo itu ke dalam Lapas dengan harga tinggi. Harga pil koplo yang biasanya seharga Rp 20 ribu setiap 10 butir, di dalam Lapas dijual hingga Rp 50 ribu setiap 10 butirnya. Artinya, harga pil koplo ketika dijual di dalam Lapas naik hingga dua kali lipat.

“Dari pemeriksaan lanjutan yang kita lakukan kemarin, bahwa suaminya mengakui di dalam itu dijual lagi. Dijual ke para napi per 10 butir seharga Rp 30-50 ribu. Jadi keuntungannya itu memang agak menggiurkan, dari belinya seharga Rp 1 juta bisa dijual lagi hingga Rp 3 juta,” paparnya.

Saat ini polisi masih berupaya untuk mengejar pemasok pil koplo ke Lapas yang dikirim melalui Vina. Polisi sedang melakukan upaya pelacakan nomor telepon yang didapat dari handphone Vina.

“Tidak cukup sampai di sini, kami terus mendalami kasus ini. Kebetulan kita sudah mengantongi nomor telepon yang saat ini masih non aktif. Selanjutnya kita akan melakukan pelacakan terkait nomor tersebut,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Vina datang ke Lapas Kelas II B Jombang pada Senin (24/8) pukul 09.00 WIB.

Lantaran, situasi pandemi covid-19, Vina hanya bisa menitipkan makanan di petugas Lapas yang berjaga di depan pintu masuk.

Setelah menitipkan makanan dan mengisi data registrasi, Vina meninggalkan Lapas.

Hingga akhirnya pukul 09.30 WIB, bungkusan Vina digeledah oleh petugas. Bungkusan Vina berisi nasi, lauk-pauk dan salak 32 buah.

Di situ, petugas menemukan buah salak yang isinya ternyata butiran pil koplo.

Setelah dibongkar semua, ada 9 buah salak yang berisi pil koplo dengan total 1.815 butir. Temuan tersebut lantas dilaporkan ke pihak Satreskoba Polres Jombang.

Berdasarkan data registrasi di Lapas, akhirnya polisi berhasil menangkap Vina pada pukul 15.30 WIB di rumah orang tuanya di Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.

Atas perbuatannya, Vina diganjar Pasal 196 UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun.(elo/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar