Aris Indra*

Dokter Ikfina, Perempuan Berkerudung Sorban Kiai Amanat Umat

Kemarin 29/01/20 penulis bertemu dengan 3 orang dari Jakarta di Warung Rakyat, mereka saling berganti tanya sementara satu diantara mereka berperan sebagai notulen.

Pengalaman berkomunikasi dengan orang baru menuntun saya untuk memastikan tidak ada mesin rekam yang menyala, 3 jam duduk bareng saya berubah-ubah posisi duduk sambil memastikannya.

Kalau pun ada alat rekam yang aktif, penulis pastikan yang terekam hanyalah saat-saat kita ketawa keras bareng-bareng. Imbuh saat pertemuan itu hujan turun, suara guyuran air sampai mengusik pendengeran.

Setelah ngecek sampai ke teman yang di Gresik, pada akhirnya penulis semakin yakin siapa mereka, apa perlunya dan diperintah siapa mereka datang ke Mojokerto. Yang jelas bukan dari lembaga survey.

Maka masuk akal sekali, pikir penulis, kalau tema pertanyaan-pertanyaan mereka angkat adalah tentang pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Mojokerto tahun ini.

Mungkin mereka sebelumnya sudah tahu siapa penulis, sehingga mereka sangat menghindari bertanya tentang partai besar pemenang pemilu 2019 di Kabupaten Mojokerto.

Sampai menjelang akhir pertemuan mereka baru menyinggung sedikit.

“Kayaknya partaimu yang menang” katanya, bunyi suara yang mendesak masuk ke telinga bersama suara hujan yang lagi deras-derasnya. Penulis otomatis langsung tertawa lepas, lalu tanya balik.

“Kenapa ndak dari tadi disinggung soal partai pemenang itu?” Kita pun langsung tertawa lagi bareng-bareng.

Pertemuan kemarin, ada dalam situasi yang masih hangat-hangatnya tentang pasbalon dr Ikfina dan Gus Barra mendeklarasikan diri sebagai Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati dengan identitas IKBAR (membesarkan).

Perihal IKBAR itu juga menjadi beberapa pertanyaan di pertemuan penulis dengan 3 orang tersebut diatas.

Kita semua tahu siapa dr Ikfina tapi kita tidak tahu siapa Gus Barra sebelum tahu siapa Abahnya. Yaa Gus Barra adalah putra Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA. Guru besar bidang ilmu sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sebagai seorang yang tertarik dengan ilmu-ilmu komunikasi politik, penulis semakin penasaran dengan dr Ikfina. Di benak penulis, mantab betul langkahnya berunding dengan pengasuh pesantren terbesar di Mojokerto tersebut.

Mantab dan betul tersebut, penulis membandingkannya dengan Bacabup yang lebih dulu mendeklarasikan diri akan tetapu menggandeng nama lama sebagai bacawabupnya. Penulis yakin, pasangan tersebut akan sulit sekali masuk ke segmen pemilih millenial.

Dari dua paslon yang mendeklarasikan diri itu, sama-sama tidak berangkat dari partai politik. Mungkin karena bukan kader partai, mereka ingin menunjukkan dulu keseriusan dan kesiapannya baik modal maupun mesin pemenangan.

Meskipun yang melambungkan nama dr Ikfina pada bursa Pilbup nanti adalah DKC Garda Bangsa Kabupaten Mojokerto (organ sayap PKB), tapi sampai saat ini DPC PKB Kabupaten Mojokerto belum mengeluarkan pendapat tentang cubitan politik “anak kandungnya” tersebut.

Maka, catatan pribadi penulis mengatakan; dr Ikfina semakin mempesona dengan mengenakan kerudung sorban Kiai Amanat Umat.

Tapi itu semua tidak akan mulus-mulus saja, perlawanan datang dari Paguyuban Sapoe Tjikrak Indonesia. Yang memunculkan nama Budi Mulyo sebagai calon wakil bupati, yang siap dipinang incumben. Menarik sekali bukan?

Apakah itu akan menggeser pesona dr Ikfina? Penulis yakini tidak! Sebab dari ketiga nama yang muncul tersebut, semuanya masih bergerak pada loby-loby elit.

Sementara media juga masih mengabarkan mereka secara bergantian, tidak memperlihatkan kecondongan pilihan, kecuali bagi yang telah paham dan jernih saja ketika membaca.

Sehingga yang ditangkap masyarakat dari media hanya sebatas kabar, sebab framing atau penggiringan opini juga tidak nampak, sekali lagi kecuali bagi yang telah paham dan jernih saja ketika membaca.

*Penulis adalah Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Mojokerto dan
Anggota Bidang Pemuda PC LP Ma’arif NU Kabupaten Mojokerto

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar