Ilustrasi.

Penerbitan Green Sukuk untuk Mengatasi Perubahan Iklim dan Memperkokoh Posisi Indonesia di Pasar Keuangan Syariah Global

Penerbit: Azimatul Nur Ubaiyah dan Robiatul Auliyah, SE.,MSA

Penerbitan Green Sukuk untuk Mengatasi Perubahan Iklim dan Memperkokoh Posisi Indonesia di Pasar Keuangan Syariah Global.

Dalam akhir-akhir ini, pembangunan yang semata-mata menargetkan pertumbuhan ekonomi telah mendapat banyak kritikan, terutama dengan maraknya isu penurunan kualitas lingkungan, isu kesenjangan sosial yang makin melebar dan isu perubahan iklim. Perubahan iklim saat ini telah menjadi ancaman nyata bagi penduduk bumi.

Dorongan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa memperdulikan daya dukung lingkungan seperti industrialisasi, penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan, dan pembalakan hutan secara massif menjadi penyebab utama meningkatnya pemanasan global.

Kondisi ini akan berdampak pada kenaikan suhu rata-rata di bumi, perubahan curah hujan, kenaikan permukaan air laut, dan frekuensi bencana yang berhubungan dengan cuaca seperti penyediaan sumber makanan dan air minum. Apabila tidak ada langkah signifikan untuk mengurangi keadaan tersebut, diperkirakan pada tahun 2100 suhu rata-rata di bumi meningkat 4,5 derajat Celcius dan permukaan air laut naik sekitar 95 cm.

Beberapa negara kepulauan seperti Indonesia, Jepang, Maladewa, dan Karibia akan kehilangan sebagian besar wilayahnya. Berkaitan dengan perubahan iklim tersebut, Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2018 telah menerbitkan instrumen keuangan yang berkonsentrasi pada pembiayaan perubahan iklim. Instrumen tersebut dikenal dengan istilah Green Sukuk.

Indonesia tercatat sebagai pelopor dalam penerbitan green sukuk di kawasan Asia Tenggara melalui penerbitan Green Sukuk senilai US$ 1,25 miliar pada bulan Maret 2018. Transaksi ini merupakan penerbitan Green Sukuk pertama kalinya di dunia yang dilakukan oleh negara.

Penerbitan green sukuk ini menggunakan underlying asset berupa tanah dan bangunan milik negara sebesar 51%, sedangkan 49% sisanya merupakan proyek pemerintah yang saat ini sedang berlangsung. Hasil penerbitan green sukuk ini akan digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek hijau pada lima sektor, yaitu ketahanan terhadap perubahan iklim untuk daerah rentan bencana, transportasi berkelanjutan, pengelolaan energi dan limbah, pertanian berkelanjutan, dan energi terbarukan yang tersebar di berbagai kementrian/Lembaga.

Kehadiran instrumen Green Sukuk di indonesia merupakan sebuah trobosan baru Pemerintah Republik Indonesia dalam merealisasikan komitmennya terhadap pengatasan masalah perubahan iklim.
Dengan adanya komitmen Pemerintah dalam mengantisipasi masalah perubahan iklim oleh karena itu instrumen Green Sukuk merupakan instrumen keuangan ynag relevan.

Green Sukuk menjadi relevan karena memang secara khusus pemanfaatan dana hasil penerbitannya wajib dialokasikan pada pembangunan yang mempertimbangkan dimensi lingkungan, sehingga upaya pemerintah dalam mengatasi masalah perubahan iklim dapat terwujudkan.

Dan dengan begitu Green sukuk memiliki potensi dalam menjembatani antara pasar tradisional yang bertanggung jawab pada sosial dengan pasar keuangan islam. Green Sukuk juga dapat menjadi momentum pembuktian Keuangan Syariah dalam menunjukkan bukti nyata dan keasliannya, baik di dalam pasar muslim maupun global. Dan juga dapat memperkokoh posisi indonesia di pasar keuangan syariah global.

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar