IKMIT saat foti bersama usai diskusi terbuka digelar (Amar Ma’ruf Malik Dulung/JurnalMojo.com)

Diskusi Terbuka IKMIT di IKHAC Untuk Kemaslahatan dan Keutuhan NKRI

Suasana santai saat diskusj terbuka yang diikuti Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Indonesia Timur (IKMIT) di Pujasera depan Kampus IKHAC (Amar Ma’ruf Malik Dulung/JurnalMojo.com)

MOJOKERTO (jurnalMojo.com) – Mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan) tentunya harus memberikan kontribusi dalam masyarakat. Seperti yang dilakukan Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Indonesia Timur (IKMIT) di Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto, yakni dengan mengelar diskusi terbuka di pelataran Pujesara, Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (08/9/2019).

Diskusi terbuka ini mengangkat tema ‘Menggugat Rasialisme Media’ yang diikuti puluhan mahasiswa IKHAC dari beberapa jurusan. Kegiatan Diskusi Terbuka ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara yang dimoderatori Anto dengan bahasan yang diberikan oleh Majid, Rizky, Sandy, Daeng & Rio selaku senior IKMIT.

“Diskusi adalah suatu tradisi dikalangan mahasiswa yang harus terus ada dan dilakukan, karena disinilah mahasiswa dapat mencetus suatu gagasan atau ide untuk suatu masalah yang terjadi sehingga fungsi mahasiswa sebagai social control dapat terealisasi dengan baik,” ungkap Santrany, selaku Ketua Umum IKMIT, usai diskusi digelar.

Sedangkan, Rizky dalam penyampaiannya sangat tertarik dengan acara diskusi seperti ini karena mampu menjadi sarana membangun pemahaman bagi Mahasiswa IKMIT.

“Banyak praktik rasialisme media yang dilakukan oleh oknum tertentu melalui media masa dalam dunia periklanan. Secara tidak langsung penayangan media dominan terhadap salah satu ras. Dan hal ini, kita sebagai Mahasiswa sampai sejauh ini hanya bisa menjadi kaum pengamin saja,” tegas Majid, salah satu pemateri dalam penyampaiannya.

Berbeda dengan Rio, salah satu mahasiswa IKHAC, menurutnya, konflik di Indonesia Timur diduga merupakan korban dari rasialisme media. ”Dimana Televisi dengan sengaja memberikan penayangan yang tidak berimbang, dimana yang menjadi tayangan itu hanya orang-orang yang berkulit putih dan rambut lurus,” jelasnya.

Senada dikatakan Daeng, dirinya berpendapat bahwa, akibat adanya praktik rasialisme media membuat masyarakat Indonesia Timur tidak bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Tak ayal, banyak teman-temannya yang berusaha meluruskan rambut, hanya ingin seperti apa yang ditayangkan media.

Diakhir diskusi, Kurnia Sandy selaku Ketua Demisioner IKMIT berharap, pasca diskusi semoga dengan hadirnya diskusi seperti ini dapat meningkatkan kembali nalar mahasiswa.

”Dengan beradu argumen serta gagasan, bisa memunculkan solusi terbaik demi menjaga keutuhan NKRI,” tutupnya. (mar/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar