Sesepuh Majapahit Jawa Timur, Banu S. Blong (Ujeck/JurnalMojo.com)

Soal Rusuh Papua, Sesepuh Majapahit Jawa Timur : Jangan Main-Main Intoleransi dan Pihak Asing

MOJOKERTO (jurnalMojo.com) – Rusuh di Papua Barat yang mengakibatkan lumpuhnya roda perekonomian dan pemerintahan, mengetuk hati sesepuh Majapahit Jawa Timur, Banu S. Blong angkat bicara. Ada dugaan, rusuh tersebut terjadi lantaran ada pihak-pihak tertentu sengaja memanfaatkan situasi dan melakukan agitasi dan propaganda serta intoleransi.

Dirinya optimis, aksi massa diluar dugaan itu bakal segera reda. Ia juga meminta, semua pihak untuk tetap menjaga toleransi. Banu yang pernah tinggal lama di Irian Barat (Papua) mengakui, jika karakter dan budaya warga Papua itu halus dan berbudi pekerti yang luhur.

”Yang saya tahu dan saya alami, jujur saya itu lama ada di Irian Barat yang sekarang disebut tanah Papua, sewaktu masih Jenderal Yaqub Zainal, saya sudah ada di Irian Barat atau Papua pasca Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat). Saya secara pribadi ikut aktif operasi Koteka yakni memberi pakaian layak untuk masyarakat Papua,” kata Banu saat ditemui JurnalMojo.com di kediamannya di lingkungan Yayasan Majapahit, Balong Cangkring, Lingkungan Cakarayam, Kelurahan Mentikan, Kota Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (22/8/2019) siang.

Dia menceritakan, SDM masyarakat Papua itu halus walaupun namanya terlihat seram. Pasca Pepera, ada orang-orang yang sudah terdidik dan intelek, tapi didikan Belanda. Yang menghendaki Irian Barat itu gabung di NKRI.

Sehari jelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 74, tepatnya 16 Agustus 2019 Kemarin. Mbah Banu, sapaan akrab Banu S. Blong itu sempat membuat sebuah rilis dengan tema untuk renungan suci yang judulnya kewaspadaan nasional, terkait masalah bahaya narkoba internasional dan bahaya bangkitnya neo imperialisme.

”Bung Karno dulu pernah menyebut awas Neokolim (kolonialisme dan imperialisme). Sekarang terbukti, Hongkong terpecah-belah parah menunggu klimaksnya aja, menang atau kalah, ini bukti bahwa neo imperialisme yang dikumandangkan lantang Bung Karno bukan lagi laten tapi manifes,” ungkapnya dengan berapi-api.

Sebagai contoh sekarang, narkoba yang marak masuk wilayah RI dari kawasan Indo Cina, atau pelaku pelakunya orang Sino Asia. Dirinya tidak percaya narkoba narkoba itu dihasilkan dari Indonesia.

”Karena apa, di segi tiga perbatasan Nederland dengan Belgia ada wilayah tidak bertuan. Dan di sana pemasok dan produsen. Dan saya curiga, narkoba yang dimasukan ke wilayah NKRI oleh Sino Sino Asia. Ini merupakan mereka kepanjangan tangan, mereka bergerak dan memberikan propaganda-propaganda juga berbahaya, tapi saya sendiri tahu. Saya ada di sana waktu operasi koteka pasca Pepera, masyarakat Papua itu saudara kita, orangnya halus budi pekerti dan bukan orang-orang kasar,” terang dia.

Apa langkah komprehensif agar bisa kembali kondusif dan situasi normal seperti sedia kala?. Apakah pemerintah pusat harus menerapkan status Darurat Sipil atau Militer untuk wilayah Papua?.

Secara pribadi, dirinya sangat tidak setuju, jika di wilayah Papua saat ini diterapkan darurat sipil atau militer. Ia beralasan, warga Papua bukan tipe orang yang suka berkelahi.

Di Papua ada ratusan suku dan bahasa, antara satu suku dengan suku lain pada dasarnya berbeda, karena mereka secara geografis, terlebih di Papua lahannya mayoritas hutan yang lebat.

”Jadi suku A dan B bahasanya sudah beda, jadi di Irian Barat atau Papua itu ada ratusan Suku dengan ratusan bahasa. Satu suku jika berkonflik disana tidak mewakili keseluruhan. Yang pasti, jangan sampai diterapkan apakah yang berstatus darurat militer atau darurat sipil,” tegas pria yang berambut putih ini.

Banu sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan Presiden RI, Pemerintah Provinsi Papua maupun Jawa Timur untuk menghentikan aksi rusuh di Papua. Seperti, melakukan komunikasi sosial yakni permintaan maaf, serta memberikan jaminan keamanan bagi pelajar maupun mahasiswa yang berada di Jawa Timur maupun di sejumlah kota besar lainnya.

”Itu benar, langkah-langkah itu bijak. Ya, tapi semua itu berangkat dari semua unsur jangan mudah membuat tindakan-tindakan intoleransi,” tutur sesepuh yang dulu pernah dekat dengan Presiden RI ke 4, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Masih menurut Mbah Banu, NKRI ini terbangun dari toleransi, jadi jangan sampai intoleransi dan rasis dijadikan alat untuk memecah belah bangsa. Permintaan maaf yang disampaikan Presiden RI, Joko Widodo, bagi Banu merupakan salah satu upaya yang bijak untuk meredam situasi.

”Presiden mengatakan Pace Mace, itu bahasa-bahasa mereka, sebutan anak kepada orang tua. Persatuan dan Kesatuan serta kekompakan ini, jangan sampai terjadi perpecahan yang merusak persatuan dengan memberi peluang intoleransi dari kelompok manapun, baik itu atas nama identitas pokoknya dalam artian luas itu jangan itu terjadi,” urainya.

Selama beberapa tahun bertugas di Irian Barat, lanjut Banu, dirinya sangat memahami karakter dan SDM warga Papua. Dia meminta kepada semua aparat menahan diri, jangan sampai ada tindakan represif.

”Dalam sejarah, selama saya di sana belum pernah ada, konflik orang Papua dengan suku Jawa tidak pernah ada. Dan hal ini akan segera berhenti atau kondusif dengan sendirinya, karena memang karakter masyarakat Papua mudah memaafkan. Jadi nggak perlu dibesar-besarkan,” pintanya.

Bagi Banu, publik sudah mengetahui, jika Papua itu banyak menerima kebaikan dari ibu kandung Republik Indonesia, mulai belajar cara berpakaian, termasuk pembangunan kesehatan, infrastruktur. Apapun yang dibutuhkan di Papua tidak lepas dari kebaikan NKRI.

Menurut Banu, Papua yang dulu dengan sekaranf sangat banyak perubahan, salah satunya infrastruktur yang sudah signifikan. Mulai dari perkotaan maupun di daerah pedalaman. ”Bayangkan, dulu harga bahan bakar minyak sangat mahal. Namun, sekarang satu harga seperti harga semen juga satu harga,” kata Banu.

Kendati Presiden RI Joko Widodo maupun pemerintah daerah telah melakukan langkah yang bijak untuk meredam situasi. Namun, hal itu hanya bersifat temporer. Ada hal yang terpenting lagi, yakni kemakmuran untuk masyarakat Papua secara keseluruhan. Yang endingnya, kemakmuran imbang bisa menyamai saudara-saudara lainnya di luar Papua.

Siapa aktor intelektual dibalik rusuh Papua?, Banu memprediksi jika pihak Asing ada dibalik insiden di Papua. Dari pengamatannya, pihak asing sudah berkali-kali teskis untuk membuat kekacauan dengan ibu kandungnya NKRI.

”Hentikan cara – cara intoleransi, apapun ormasnya. Kita ini satu. Masalah kecil jangan dibesar-besarkan.Papua itu saudara kita. Jangan main main, pertama jangan pernah main-main dengan namanya intoleransi dan jangan main, – main dengan narkoba. Terlebih melakukan segala macam cara, untuk melakukan praktek tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara yang berakibat pada masyarakat Indonesia,” pungkas Mbah Banu. (jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar