Salah satu narasumber Sisyantoko atau biasa dipanggil Cak Toko sedang mempraktekkan pembuatan bakteri pengurai sampah organik. (Karin/jurnalmojo)

Pelatihan Komposter Mampu Tekan Volume Sampah Rumah Tangga di Mojokerto

Salah satu narasumber Sisyantoko atau biasa dipanggil Cak Toko sedang mempraktekkan pembuatan bakteri pengurai sampah organik. (Karin/jurnalmojo)

MOJOKERTO (jurnalMojo.com) – Pejuang lingkungan hidup dari 12 kecamatan dan 5 Sekolah Adiwiyata yang ada di Kabupaten Mojokerto berkumpul di balai Desa Ketapan Rame Jalan Ki Ageng Tambak Boyo Nomor 50A, Dusun Slepi, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (26/06/2019) pukul 08.00 pagi.

Pertemuan tersebut sengaja digelar dengan tujuan untuk mengetahui cara dan mengolah sampah organik menjadi pupuk menggunakan tong komposter. Nampak sejumlah peserta berdatangan menggunakan pakaian batik yang sebagian besar merupakan peserta ibu-ibu, walau memang ada beberapa peserta merupakan bapak-bapak.

Kegiatan ini wujud dari Program Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Provinsi Jawa Timur dalam kegiatan pengelolaan sampah skala rumah tangga.

Saat ini, Indonesia merupakan penghasil sampah terbanyak nomer 2 di laut dan kita semua tahu, sampah-sampah itu berasal dari sampah rumah tangga yang dibuang di sungai.

Hal itu menunjukkan bahwa sampah dihasilkan dari aktifitas manusia seiring dengan bertambahnya populasi penduduk, dari aktifitas kegiatan penduduk inilah otomatis akan meningkatkan volume sampah maupun timbunan sampah di bumi.

Kepala Seksi Pengembangan dan Pelayanan Informasi Ir. Indriati Listyorini, MT. menjelaskan, rangkaian dari sistem pengelolaan sampah itu sendiri tidak hanya separasi TPA atau TPS ataupun tingkat lingkungan saja. Namun semuanya harus berkesinambungan, dan bertujuan untuk bisa memaksimalkan pengurangan sampah dari sumbernya dalam hal ini rumah tangga.

“Selain itu berfungsi meminimalkan biaya-biaya pengelolaan pengangkutan dari sumbernya atau penampungan sampah sementara (dipo sampah) seperti TPS 3R sehingga beban pengelolaan TPS 3R juga berkurang,” ungkapnya.

Indriati menegaskan, otomatis volume sampah ketika masuk ke tempat pembuangan akhir pun akan berkurang, biaya untuk pengangkutan sampah ke TPA pun akan berkurang. ”Life time akan penggunaan maupun pengelolaan sampah inipun akan lebih panjang,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pengelolaan Informasi Teknologi Bangunan dan Pelayanan Permukiman I Nyoman Gunadi, ST., MT menambahkan, pihaknya akan tetap berkoordinasi dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup dan juga bank sampah di Kabupaten Mojokerto. Sebab lanjut Nyokap, tugas dan kewajiban yang utama untuk melanjutkan kegiatan ini berada pada peserta pelatihan.

“Kita sifatnya hanya monitoring, dan tidak bisa memberikan satu regulasi ini harus manakala mana mereka tidak bisa meng kesinambungan pelatihan ini,” terangnya.

Sebab tugas pejuang-pejuang lingkungan yang paling dekat adalah pengurus Bank Sampah Induk maupun Bank Sampah Unit yang sudah memiliki wadah pengelolaan sampah skala rumah tangga. (rin/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar