Kepala Desa Sampangagung, Suhartono saat menjalani persidangan. (Achmad Supriyadi/jurnalMojo)

Kades Sampangagung Dituntut 1 Tahun Percobaan dan Denda 12 Juta

Suasana ruang sidang Kepala Desa Sampangagung Suhartono. (Achmad Supriyadi/jurnalMojo)

MOJOKERTO (jurnalmojo.com) – Sidang lanjutan perkara pidana pelanggaran pemilu yang menjerat Kepala Desa Sampangagung, Suhartono kembali digelar dengan wacana pembacaan putusan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Suhartono hadir dengan memakai seragam dinas. Sidang tersebut digelar di ruang Cakra Pengadilan Negeri Kabupaten Mojokerto, Selasa (11/12/2018).

Ratusan warga Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto datang untuk mendukung Kepala Desa Sampangagung yang akrab disebut Nono. Majelis Hakim, Hendra Hutabarat membuka sidang pukul 13.30 WIB. Suhartono masuk ke kantor Pengadilan Negeri, Kabupaten Mojokerto sambil melemparkan senyum dan mengacungkan dua jari ke awak media.

Puluhan pendukung Kepala Desa Sampangagung Suhartono. (Achmad Supriyadi/jurnalMojo)

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ivan Yoko membacakan surat putusan di awal persidangan. Terdakwa memerintahkan Ketua Karang Taruna saksi Sunardi, untuk memesan dan memasang spanduk ucapan selamat datang dan dukungan bagi Sandiaga Uno yang akan melakukan kampanye di Wisata Air Panas Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

“Menuntut agar majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Mojokerto yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, satu menyatakan terdakwa Suhartono telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, kepala desa dilarang membuat keputusan dan atau melakukan tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu peserta pemilu selama masa kampanye,” katanya.

Ivan Yoko yang juga menjabat sebagai Kasi Barang Bukti Kejaksaan Negeri Mojokerto menjelaskan, Suhartono dituntut satu tahun penjara karena melakukan tindak pidana.

“Pasal 490 junto Pasal 282 Undang-Undang No 7 Tahun 2017 tentang pemilu dalam dakwaan kami, dengan pidana penjara selama 6 bulan dengan masa percobaan 1 tahun dan denda sebesar Rp 12 juta subsider 2 bulan bulan kurungan penjara. Tiga menyatakan barang bukti berupa, satu DVD merek gl pro yang berisi rekaman video tindak pelanggaran pemilu,” tambah Ivan.

Meskipun, hakim memvonis dengan tuntutan yang sama, Suhartono tidak dijebloskan ke penjara. Nono sapaan akrab Suhartono akan dijebloskan ke penjara, jika selama satu tahun dirinya melakukan kesalahan yang sama.

Usai persidangan, Kepala Desa Sampangagung, Suhartono yang dikenal nyentrik ini mengatakan, tuntutan yang dilayangkan kepada dirinya tidak adil.

“Tidak adil sekali, karena dari unsur ketidaktahuan ini, tidak ada sosialisasi dari Bawaslu maupun dari pihak manapun, bahwa kepala desa tidak boleh ikut dalam kampanye, tidak ada edaran, tidak ada sosialisasi. Jadi kalau dituntut satu tahun denda 12 juta itu sangat jomplang sekali. Karena apa, pembakaran bendera tauhid hanya lima hari, dua ribu rupiah dendanya, jadi sangat tajam ke bawah, jadi pihak rezim sontoloyo dan politik genderuwo, jadi tidak benar ini,” tandasnya.

Besok, Rabu (12/12/2018) sidang akan dilanjutkan dengan mengajukan pembelaan (Pledoi) secara tertulis. Pledoi terdakwa akan dilakukan pada pukul 13.00 WIB. (pry/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar