Sejumlah warga Desa Bugasur Kedaleman saat melakukan protes di lokasi galian C yang dianggap keluar ordinat ijin. (Elok Aprianto/jurnalMojo)

Lakukan Aktifitas Galian C Diluar Izin, Ratusan Warga Protes Penambang

Kantor Desa Bugasur Kedaleman, Kecamatan Gudo, Jombang. (Elok Aprianto/jurnalMojo)

JOMBANG (jurnalmojo.com) – Puluhan warga Desa Bugasur Kedaleman, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, melakukan protes pada pelaksana CV. Musataman Group melakukan aktifitas pertambangan galian C yang diduga keluar dari koordinat ijin yang dimiliki oleh pihak cv.

Sedangkan ijin aktifitas pertambangan milik CV. Mustaman Group yang dikantongi dari Pelayanan Perizinan Terpadu (P2T) Provinsi Jawa Timur, berada di Desa Juwet, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri.

“Kalau izinnya tidak ada. Dan katanya disini itu masih wilayah dia (pihak CV. Mustaman Group, red), padahal disini ini masuk wilayah Jombang, kan ini sudah menginjak Jombang. Dan dampaknya bisa dilihat sendiri,” ujar Kepala Dusun Kedaleman, Ninik Indrawati, pada sejumlah jurnalis. Sabtu, (28/07/2018).

Protes warga ini berujung pada penutupan akses jalan yang digunakan oleh CV. Musatman. Dan pemberhentian aktifitas pertambangan galian C dilokasi bantaran sungai kali konto. Hal ini dikarenakan pihak penambang tidak pernah koordinasi dengan pemerintah desa setempat. Bahkan mereka berdalih hanya numpang lewat.

“Untuk sementara tidak boleh ada aktifitas dan alat-alat berat harus dipindahkan ke wilayah Kediri. Sudah lama alat beratnya ada di sini, dan kalau di wilayah Kediri gak apa-apa, tapi yang satu ini mau dikemanakan, padahal katanya cuman numpang lewat, tapi selama ini gak ada koordinasi. Dan selama ini pake akses jalan ini mas,” tegasnya.

Sementara itu, aparat polsek setempat membenarkan bahwa memang selama ini izin yang dimiliki oleh pihak CV. Mustaman Group memang titik lokasi kordinat aktifitas galian C, seharusnya berada di wilayah Kediri, dan bukan di Jombang.

“Selaku pemegang izin usaha resmi adalah CV. Mustaman, memiliki izin usaha tambang yang kawasannya berada di Desa Juwet, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Namun akses armada ini melintas jalan Bugasur Kedaleman,” terang Kapolsek Gudo, AKP Yogas.

Saat ditanya adanya aktifitas pertambangan yang dilakukan oleh pihak CV. Mustaman, yang diduga keluar dari ordinat yang ditentukan sesuai izin galian C yang dikeluarkan oleh P2T Provinsi Jatim.

Kapolsek mengatakan, bahwa mengenai lokasi tambang itu yang menentukan adalah P2T, dan bukan kewenangannya polisi. Sedangkan aparat kepolisian yang ada dilokasi hanya sebatas menjaga keamanan terkait adanya protes warga dan menghindari konflik.

“Kalau batas wilayah itu bukan menjadi kapasitas kami, itu izin ESDM provinsi karena menyangkut titik koordinat, kami tidak punya kapasitas untuk itu. Saya selaku kapolsek berbicara mengenai aspek kemanan supaya ini terhindar, karena saya menghindari konflik,” tegas Yogas.

Atas adanya peristiwa protes tersebut, hingga kini persoalan tersebut belum ada titik terang. Hal ini dikarenakan dalam pertemuan yang dilakukan di kantor balai desa setempat antara warga dan pihak penambang dari CV. Mustaman Group, serta aparat Desa dari Bugasur Kedaleman, tidak dihadiri pihak pemerintahan dari Kediri.

Sehingga untuk sementara waktu pelaksanaan aktifitas galian C di wilayah tersebut harus dihentikan. Dan sejumlah alat berat harus dipindahkan ke wilayah Kediri, sesuai dengan izin yang dikantongi oleh pihak penambang dari CV. Mustaman.

“Hasilnya tadi dari pihak Mustaman mau memberi ganti rugi dan akan menggali di wilayah Kediri. Kan ini masih ada debat soal batas wilayah, dari pihak Jombang udah nurunkan orang, tapi dari pihak Kediri gak ada yang berangkat, sedangkan kita menunggu udah berjam-jam. Iya ini ada penyerobotan,” pungkas Ninik. (elo/yus)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar