Salah satu Ikan Arapaima milik Masudin. (Elok Aprianto/jurnalMojo)

PSDKP Dan Polisi Datangi Pemeliharan Ikan Arapaima di Jombang

Sejumlah petugas dari PSDKP dan Satreskrim Polres Jombang saat datangi kediaman Masudin, pemilihara ikan Arapaima. (Elok Aprianto/jurnalMojo)

JOMBANG (jurnalmojo.com) – Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Benoa Bali, dan aparat Satreskrim Polres Jombang, mendatangi dan memastikan keberadaan ikan Arapaima yang dipelihara oleh Masudin (45), salah satu warga Dusun Ketanen, Desa Banyuarang, Kecamatan Ngoro, Jombang, Jawa Timur.

“Tujuan kami kesini untuk memastikan apa betul keberadaan ikan arapaima itu dipelihara disini dan ada pemiliknya,” kata Suryono, selaku Kordinator Satwas PSDKP, saat ditemui sejumlah jurnalis. Selasa, (03/07/2018).

Kedatangan Satwas PSDKP dan aparat Satreskrim Polres Jombang tersebut selain untuk memastikan keberadaan ikan predator tersebut, petugas juga melakukan kordinasi dengan pemilik ikan tersebut agar ikan larangan itu bisa diserahkan ke petugas untuk dilakukan pemusnahan.

“Ikan ini harus diserahkan melalui Posko yang sudah dibentuk oleh BKIPM Surabaya. Dalam waktu satu bulan ini, ada kordinasi untuk penyerahan, jika satu bulan tidak ada tindak lanjut maka proses hukum akan berlanjut,” ujar Suryono.

Saat ditanya apakah ada ketentuan yang mengatur keberadaan ikan Arapaima tersebut, Suryono menjelaskan, bahwa ada larangan dari pemerintah mengenai keberadaan ikan ini. Karena ikan Arapaima, masuk dalam kategori ikan predator air tawar yang berbahaya bagi fauna di Republik Indonesia.

“Larangan ini ada di Undang-undang nomor 45 tahun 2009, dimana dalam undang-undang itu melarang ikan poredator masuk ke Indonesia, dan ikan arapaima itu diatur dalam permen nomor 41 tahun 2014, disitu menyebutkan, bahwa ikan Arapaima dilarang masuk ke Indonesia,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Gatot Setya Budi mengatakan bahwa, setelah ada penemuan ikan Arapaima di brantas, pihak polres melakukan pengecekan di kediaman pemelihara ikan tersebut, khususnya pemelihara ikan arapaima yang ada di wilayah hukum Polres Jombang.

“Menindaklanjuti kejadian-kejadian sementara yang lagi booming di media tentang adanya ikan arapaima yang kemarin ditemukan di Brantas, kami mendapatkan informasi bahwa di kediaman Masudin beliaunya memelihara ikan Arapaima. Kami lakukan pengecekan dengan petugas BKIPM dan betul bahwa Masudin memelihara lima ekor ikan Arapaima,” ungkap Gatot.

Saat ditanya langkah apa yang akan dilakukan oleh Pihak Polres Jombang, mengingat di Jombang ada warga yang memelihara ikan larangan pemerintah tersebut, Gatot menegaskan, bahwa pihaknya saat ini hanya menghimbau pada pemelihara ikan tersebut agar menyerahkan itu pada pihak yang berwenang.

“Kami menyampaikan himbauan dari Kementrian Perikanan bahwa untuk ikan Arapaima ini adalah jenis ikan yang dilarang berada di Indonesia. Jadi ada himbauan, mulai tanggal 1 Juli sampai 31 Juli bagi pemilik atau pemelihara ikan-ikan ini harus menyerahkan ikan ini pada BKIPM,” papar Gatot.

Sementara himbauan ini, lanjut Gatot, pemelihara atau pemilik ikan akan diberikan waktu sampai 31 Juli, jika batas waktu habis dan ikan juga tidak diserahkan, maka pemilik atau pemelihara akan dikenakan pidana selama enam tahun, sesuai dengan ketentuan Undang-undang nomor 45 tahun 2009.

“Sementara himbaunnya diberikan waktu sampai tanggal 31 Juli, setelah batas waktu tersebut oleh pemelihara ikan ini tidak mengambil sikap untuk menyerahkan ikan itu, nantinya aka nada langkah-langkah hukum sesuai dengan UU nomor 45 tahun 2009,” tukas Gatot.

Menanggapi himbauan dari Satwas PSDKP dan Satreskrim Polres Jombang, Masudin selaku pemelihara dan pemilik lima ikan Arapaima itu mengatakan, akan mematuhi himbauan dari pihak yang berwenang jika memang syarat dan ketentuan dari aturan tersebut jelas.

“Kita tadi berdiskusi terkait prosedur bagaimana nanti proses penyerahannya, jadi memang kalau ini boleh dipelihara seperti di Jatimpark, Taman Mini dan lain sebagainya, boleh dipelihara kita akan penuhi syaratnya. Kita akan ikuti syarat dan ketentuannya jika diperbolehkan untuk dipelihara sesuai dengan petunjuk BKIPM, Provinsi Jatim,” terang Masudin.

Disinggung apakah nanti pihaknya akan menyerahkan ikan tersebut pada pemerintah, Masudin mengatakan, jika nantinya ikan ini diserahkan untuk dimusnahkan, pihaknya ingin salah satu ikannya dibuat syukuran dengan warga Ngoro.

“Kami sampaikan kalau untuk dimusnahkan sampai tanggal 31 Juli nanti tidak ada proses tindak lanjut, lebih baik ikan ini digunakan kenduri warga, kan sama saja ujung-ujungnya juga dimusnahkan, jadi ikan ini bisa dimanfaatkan oleh warga,” pungkas Masudin.

Perlu diketahui, bahwa Masudin memelihara ikan Arapaima sejak tahun 2013 di kolam miliknya. Awalnya dia mempunyai sembilan ikan berukuran jumbo tersebut.

Terapis tuna rungu ini membeli dari sejumlah kolektor di Sidoarjo dan Kediri. Harganya saat itu bervariasi, mulai dari Rp 6 juta hingga Rp 30 juta/ekor.

Sejak tahun 2016 ikan peliharannya tinggal lima ekor. Sementara emoat ekor lainnya mati akibat memakan sampah plastik. Terdiri dari tiga ekor jenis Arapaima Panda dan dua ekor jenis Arapaima Gigas. (elo/yus)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar