Kakek 83 Tahun Tetap Eksis Jualan Sapu & Keset di Pinggir Jembatan Sampang

Jurnalis : Deaz Terengganu
Kakek Biyani sedang menunggu pembeli di depan dagangannya. Foto : Deaz Terengganu/jurnalMojo.com

SAMPANG (Jurnalmojo.com) – Kendati diusianya yang sudah lanjut usia, Kakek Biyani terus bekerja dengan menjajakan dagangannya berupa sapu ijuk dan keset. Dengan pakaian yang lusuh, kakek berusia 83 ini tampak sabar duduk di tepi jalan, sembari nunggu para pengendara yang berhenti untuk membeli barang jualannya.

Kakek Biyani, salah satu dari ribuan warga yang tinggal di Kecamatan Batang Batang Kabupaten Sumenep yang mampu bekerja hingga masa tua. Kendati sudah lanjut, ia tampak tegar sebagai pekerja keras di usianya yang sudah tak produktif lagi.

Untuk menyambung hidup, seperti biasa selepas sholat maghrib, ia bergegas menuju lokasi berjualannya yakni di samping Jembatan Panglima Sudirman hingga larut malam terkadang Pukul 23.00 WIB.

Kakek yang dikaruniai 2 anak ini, setiap harinya tinggal di dalam Mushola yang berada di dalam Pasar Srimangunan Sampang.

  • “Setiap sepuluh hari sekali saya pulang ke Sumenep untuk kulakan sapu ijuk dan keset,” tutur Kakek Buyani, saat ditemui  jurnalMojo, Selasa (2/12/2018) malam, sembari mengaku telah berjualan di Sampang selama setahun.

Menurutnya, di Sumenep telah banyak yang berjualan seperti itu, oleh karena itu ia lebih memilih berjualan di Kabupaten Sampang.

Salah satu pembeli yang memilih sapu ijuk. Foto : Deaz Terengganu/jurnalMojo.com

Dalam setiap harinya, dagangan yang laku berkisar 5-10 barang. Dari jualannya tersebut keuntungan yang diraup sekitar Rp 50 ribu per harinya. Bahkan ia mengaku pernah dalam sehari dagangannya tidak laku sama sekali.

Kakek Biyani kembali bercerita bahwa terkadang ada pengendara yang berhenti hanya untuk memberinya makanan atau minuman.

“Saya kira beli sapu atau keset, ternyata tidak,” ucapnya dengan nada rendah sambil menunjuk salah satu minuman yang merupakan pemberian dari orang.

Salah satu pembeli yang enggan disebutkan namanya mengaku prihatin melihat kakek yang sudah renta masih bekerja banting tulang.

“Saya tidak sengaja lewat kemudian melihat kakek Biyani timbul rasa empati untuk membeli dagangannya, walau barang yang kakek jual tidak terlalu kita butuhkan setidaknya kita beli saja hitung-hitung membantu mas,” ungkapnya.

Ia merasa terharu dengan semangat yang dimiliki Kakek Biyani dengan umur yang sudah senja namun masih gigih untuk bekerja hingga tengah malam.  (eaz/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar