Warga Kembangringgit Pungging Ngluruk Pabrik Sinergy Power Source

Jurnalis : Ach. Supriyadi
Aksi yang menuntut pembayaran pembebasan tanah untuk proyek pabrik. Foto : JurnalMojo.com/Ach. Supriyadi

MOJOKERTO (jurnalmojo.com) – Puluhan warga Desa Kembangringgit, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto , mendadak unjuk rasa di balai desa setempat, Rabu (29/11/2017). Aksi tersebut terkait pembebasan tanah yang masih terkatung-katung.

Sekitar 30 warga itu mendatangi musyawarah yang dipimpin Kepala Desa Kembangringgit Riyanto, selaku panitia pembebasan tanah untuk pembangunan PT Sinergy Power Source dan Polres Mojokerto.

Panitia pembangunan menjelaskan seluruh warga termasuk 5 warga yang saat ini tanahnya belum dibayar, mereka telah sepakat untuk menjual tanahnya ke perusahaan seharga Rp 340 ribu per meter persegi.

“Tanggal 14 April 2015 warga minta 800 ribu per meter tetapi investor meminta 340 per meter dan warga setuju dengan harga itu. Saat Kades membuka pendaftaran penjualan tanah, tapi ternyata tak semua mau menjual padahal sudah ada kesepakatan,” kata warga.

Dalam musyawarah itu tidak menemukan hasil yang memuaskan, puncaknya warga ngluruk pabrik PT Sinergy Power Source di Desa Bajangan, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Ada lima warga belum dapat kompensasi dari pembebasan, salah satunya Sukadi Wandoyo (51) yang mempunyai bidang tanah seluas 1600 meter persegi dan 1.609 meter persegi.

“Bulan November tahun 2014, tanaman tebu saya dirusak PT Sinergy Power Source kemudian dibangun pabrik. Tidak ada ganti rugi sampai saat ini,” ungkapnya.

Bahkan kelima warga yang tanahnya diserobot tersebut sudah melakukan berbagai cara untuk melawan. Dari menemui pihak perusahaan hingga melapor ke Polres Mojokerto.

“Saya dan keempat warga lainnya sudah pernah melapor ke Polres, awalnya ditanggapi dan ditemukan sama perusahaan. Waktu itu kami tawarkan Rp 957 ribu per meter persegi, lama tak ketemu pihak perusahaan, mereka melanggar janji, tanah kami ditawar Rp 800 ribu per meter persegi harganya malah turun,” imbuhnya.

Iwan Setiyanto, salah satu Tim Advokasi menjelaskan jika kelima warga hanya mendapat harga sesuai pasaran. “Luasnya semua sekitar 3 hektare, ada bukti kepemilikan berupa surat letter C dari 5 warga Kembangringgit, nilainya total Rp 5 miliar, harga pasaran itu bukan mengada-ada,” katanya.

Iwan menambahkan, aksi demo ini bentuk kekesalan warga yang tidak mendapat keadilan. “Lima bulan yang lalu kami sudah melaporkan ke Polres Mojokerto, juga upaya di BPN (Badan Pertanahan Nasional). Namun, sangat lambat penanganannya, Polres katanya masih melakukan penyelidikan,” ujarnya saat aksi berlangsung.

Kades Riyanto memilih menghindar dari awak media saat dirinya hendak dimintai keterangan oleh beberapa awak media Rabu (29/11/2017). (pry/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar