48 Tahun, Ludruk Karya Budaya Pertahankan Eksistensi

jurnalmojo.com
Sarasehan dalam rangka HUT ke 48 Ludruk Karya Budaya
MOJOKERTO ( jurnalmojo.com ) – Siapa bilang ludruk sudah tidak ada?. Ludruk tidak pernah mati, ludruk masih ada disekitar kita. Bertahan dari gerusan perubahan peradaban bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan. Ludruk Karya Budaya Mojokerto mampu untuk melakukan hal dianggap tidak mungkin itu.
Eksistensi Ludruk masih kita jumpai saat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Karya Budaya,  Senin (29/5/2017) malam, di Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. 
Ribuan pasang mata melihat langsung di Pondok Jula-Juli milik Cak Eko Edy Susanto atau yang biasa dikenal dengan sebutan Cak Edy Karya, menjadi magnet berkumpulnya ratusan warga yang tak lain adalah para undangan dalam acara sarasehan. 
Ludruk yang mengambil tema menyongsong ludruk masa depan yang digelar dalam rangka hari ulang tahun ludruk Karya Budaya ke 48.
Para seniman ludruk se-Jawa Timur menghadiri acara ini sebagai penghormatan atas dedikasi dari Cak Edy Karya dalam melestarikan kesenian tradisional asli Jawa Timur. 
Disamping itu, hadir pula beberapa pejabat Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten diantaranua Kepala Disporabudpar Kota Mojokerto Subambihanto beserta staf, Kepala Disporabudpar Kabupaten Didik khusnul Yakin, delegasi DKJT, ISI Solo, serta pelaku seni baik dari Kabupaten Mojokerto maupun kota-kota lain.
Tampak gayeng saat sarasehan berlangsung

Dalam HUT nya ke 48 tahun ini, Cak Edy memberikan hal berbeda dari tahun sebelumnya, yakni dengan menggelar sarahesan ludruk “menyongsong ludruk masa depan”. Seperti diketahui bahwa kesenian tradisi saat ini memang sudah banyak ditinggalkan oleh generasi muda. 

Gerusan peradaban kebudayaan yang begitu deras mewajibkan para pelaku seni tradisi untuk melakukan banyak inovasi dan kreatifitas yang lebih lagi. 
Seperti yang disampaikan narasumber Sarasehan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Aris Setyawan. Menurut Aris, dari banyak makalah atau tesis yang saya jumpai seringkali menyatakan bahwa ludruk sudah mati. Ludruk tidak akan bisa bertahan dari tekanan seni modern dan sebagainya. 
Cak Kirun saat menghadiri Sarasehan HUT :Ludruk Karya Budaya

Tapi bagi Aris yang juga dosen Estimomusikologi ISI Solo tersebut, ludruk tidaklah mati. Bagi Aris, Ludruk masih bertahan, buktinya masih banyaknya pagelaran ludruk dengan ciri khas itu bertebaran di kota-kota di Jawa Timur. 

“Saya menegaskan bahwa ludruk tidak mati, hanya saja secara jujur saya katakan bahwa banyak masyarakat yang tidak tepat dalam memberikan stereotip kepada generasi muda. Seperti, bahwa ludruk itu kuno sementara sinetron itu modern. Dan yang lebih menyedihkan lagi, pemerintah tidak serius terhadap kesenian tradisi ini,” kata Aris. Di setiap sekolah, lanjut Aris, apakah lebih banyak sekolah yang mempunyai alat musik karawitan ataukah lebih banyak sekolah yang mempunyai alat musik modern seperti  alat band. 
Ia menegaskan lagi, bahwa doktrin yang tidak tepat selalu ditanamkan. Pemain band adalah anak band dan pemain karawitan adalah anak gamelan alias kuno.
Gamelan milik Karya Budaya yang tetap eksis

“Peran pemerintah sangat dominan di sini, jadi saya berharap pemerintah tidak menutup mata dengan kondisi seperti ini. Jika menginginkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkharakter maka menjadi kewajiban mutlak untuk tetap menghidupkan kesenian tradisi,” ungkapnya.

Selain itu, hadir juga pelawak kondang H. Syakirun atau lebih dikenal dengan panggilan Cak Kirun sebagai narasumber. Dalam paparannya, bahwa ludruk tidak akan pernah mati. Ludruk adalah kesenian yang unik dan kompleks. Ludruk hadir dalam setiap sendi kehidupan masyarakat khususnya di Jawa Timur.
“Siapa bilang ludruk mati? Salah besar jika ada yang bilang seperti itu. Ludruk srlalu ada disekitar kita. Cuma karena banyak dari kita yang tidak paham apa dan bagaimana ludruk itu,” ungkap Kirun.
Ludruk tidak pernah mati, lanjut Kirun, tapi kualitasnya yang harus dipertanyakan. Seperti Karya Budaya sendiri yang tetap eksis dengan kualitas  yang tidak diragukan lalu bagaimana? tinggal kesempatan yang ada untuk bisa terus tampil guna menjaga dan melestarikannya.
Cak Eko Edy Susanto pendiri Ludruk Karya Budaya

“Jika masyarakat sudah banyak turut melestarikan seni ludruk ini dengan pesanan untuk tampil, sekarang saya tanya kepada pemerintah. Pernah nggak memboking ludruk untuk tampil dalam acara-acara pemerintahan? Lha kalau gak pernah boking ya berarti pemerintah tidak turut menjaga dan melestarikan seni ludruk. Jadi jangan sampai bilang kalau ludruk itu mati, hanya anda saja yang tidak pernah “nanggap” (boking),” kelakar Kirun disambut dengan gelak seluruh undangan yang hadir. (youn/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar