Suasana saat PC PMII Mojokerto melakukan ziarah dan doa bersama (Hajar Estina/jurnalMojo.com) 

Bentuk Pengawalan Terhadap Kekerasan Seksual, PMII Mojokerto Takziah ke Makam Novia 

Ketua Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) saat memberikan keterangan pers usai ziarah ke makam Alm Novia (Hajar Estina/jurnalMojo.com)

MOJOKETO (jurnalMojo.com) — Pengurus Cabang Pergerakan  Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Mojokerto melakukan takziah dan doa bersama pada hari Senin (06/12/2021) di makam almarhumah Novia Widyasari Rahayu (23) pelaku bunuh diri di makam sang ayah. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kasus kekerasan seksual dan bentuk pengawalan agar di sahkannya RUU PKS.

 

Ibu Novia, Fauzun mengaku bahwa sudah bisa mengikhlaskan kepergian anaknya.

“Saya sudah merelakan kepergian Novia, saat ini Novia hanya butuh doa agar supaya bisa istirahat dengan tenang,” ucap Ibu korban, saat di kunjungi sahabat – sahabat PMII sebelum ke makam Novia.

 

Ketua Pengurus Cabang PMII Mojokerto, Ahmad Rofi’i mengatakan, setelah melakukan takziah dan doa bersama. “Hukum harus ditegakkan, terlepas dari siapapun pelakunya.” ucap Ketua PC PMII, saat di wawancara awak media.

 

Lebih lanjut ia juga mengatakan bahwa akan mengusung kasus ini sebagai pengawalan terhadap RUU PKS. Mahasiswa asal IKHAC ini juga akan melakukan aksi solidaritas dalam waktu dekat ini.

 

“Kami akan melakukan aksi solidaritas terhadap kekerasan seksual ini di depan kantor kepolisian,” ujarnya.

 

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Novia Widyasari Rahayu (23) ditemukan meninggal dunia di makam Ayahnya di Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (2/12/2021).

Novia melakukan aksi bunuh diri, diduga lantaran depresi setelah dipaksa Randy menggugurkan kandungannya sebanyak dua kali.

 

Setelah dilakukan penyelidikan lebih dalam oleh pihak kepolisian, akhirnya Bripda Randy terbukti bersalah atas tindakan aborsi.

 

Akhirnya Bripda Randy ditangkap Polda Jatim pada, Sabtu (4/12/2021).

Polisi Republik Indonesia (Polri) memutuskan memberikan sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) kepada Bripda Rendy Bagus (21), anggota polisi yang terlibat kasus bunuh diri Novia Widyasari (23).

 

“Tindak tegas baik sidang kode etik untuk dilakukan pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH),” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Dedi Prasetyo, Minggu 5 Desember 2021.

 

Tidak hanya itu, kata Dedi, Bripda RB juga akan diproses pidana sesuai dengan pelanggaran yang dilakukannya. (est/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar