Moeltazam Aktifis HMI Cabang Kota Bogor

Menuju Senior

Oleh : Moeltazam

Bagi saya, status Maba (Mahasiswa Baru) akan purna sebab adanya pergeseran Maba selanjutnya. Karena selagi belum terjadi pergeseran itu Maba masih junior dan masih Maba-nya senior. Artinya, selagi kita belum punya junior kita masih Maba.

Pada dasarnya junior dan senior tidak selalu berhierarki dalam dunia pendidikan khususnya di perguruan tinggi. Hanya saja, selalu ada manusia-manusia bertopeng paras cantik, prilaku baik tapi berjiwa iblis. Sehingga kita terbius dengan tutur manisnya. Tak heran jika di temukan mahasiswa penjilat kaki senior atau bahkan rela menjadi budaknya.

Bisa dikatakan orang-orang yang tercatat namanya di Perguruan Tinggi lebih awal bisa dijadikan Senior bagi orang-orang selanjutnya. Usia, pengalaman juga status sosial tidak bisa menjadikan legalitas kesenioran.

Lebih tepatnya saya membedakan Junior dan Senior dari segi keilmuan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Az-Zumar ayat 9 yang artinya:
“Katakanlah! ‘apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran” (Q.S. Az-Zumar :9).

Kebenaran mutlak tidak dapat dipungkiri yaitu perbedaan orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Banyak Dalil Shohih yang menjelaskan tentang kemuliaan orang yang berilmu. Dan dalam surat  Al-Mujadalah ayat 11 dijelaskan orang yang beriman dan berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.

Imam Syafi’i berkata “Orang berilmu dipandang mulia sekalipun terlahir dari keluarga jelata”. Beliau menyatakan betapa pengaruhnya orang-orang berilmu dipandang mulia tak perlu memandang latar belakang, kelas sosial atau apa pun saja.

Ironisnya, di kalangan  pendidikan Perguruan Tinggi terlalu sering kita saksikan Senioritas yang begitu kental. Di sadari atau tidak Beliau para Senior menganggap dirinya berkualitas di antara Juniornya. Berdasarkan pengakuannya menyatakan lebih dulu mengenyam bangku perkuliahan. Faktanya memang sedemikian dan Senior, Junior di sini tidak mengarah pada usia, pengalaman bahkan kelas sosial. Meskipun terkadang usia dan pengalaman termasuk bagian dari Senior tapi jarang dalam hal kelas sosial.

Ketika ada kata-kata “kami lebih senior dari kalian “ secara tidak langsung menyatakan “kami lebih berilmu dari pada kalian”. Tanpa mengolah kata batu itu terlebih dahulu mengindikasikan tidak adanya didikan atau pengajaran pada Juniornya.
Menyombongkan diri melalu reputasi keseniorannya (keilmuannya) atas dasar angka semester dan jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) yang lebih banyak. Namun tidak dapat di buktikan dengan prilaku buruknya di khalayak umum umunya pada Junior khususnya.

Sejatinya orang seperti beliau-beliau sangat di ragukan kualitas keilmuannya. Jumlah SKS yang banyak dan Indeks Prestasi yang mapan tidak bisa di jadikan barometer kualitas keilmuan seseorang.
Tak berhenti di situ saja banyak hal-hal yang terjadi dalam dunia Senior dan Junior contohnya seperti meng-kotak-kotakan. ‘Pilih kasih’, ‘tak tebang pilih’, ‘beda pemahaman tumbangkan!’ beda kepentingan hajar!’. Soe Hok Gie pernah berkata: “Masih terlalu banyak Mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau di tekan tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman se-ideologi, dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk di tipu oleh tokoh-tokoh Mahasiswa macam tadi”.

Sangat tersindir sekali. Mahasiswa Baru di sumpah untuk menjaga persatuan, menebas ketidak adilan, kejujuran terpecah karena hal semacam apa yang di katakan Gie. Senior bertambah pandai. Junior menuju status Senior. Kalau hanya menjadi penghambat kemajuan bagi masyarakat lebih layak kembali menjadi siswa. Ranahnya sudah beda. Mahasiswa berfungsi sebagai agen perubahan dan kontrol sosial harus mampu mengembannya. Peran dan fungsi Mahasiswa itu yang selalu di gadang-gadangkan masyarakat. Bagaimana para mahasiswa bisa memberikah kontribusi kecil minimal. Bagaimana Mahasiswa bisa kreatif dan inovatif dalam setiap kondisi dan situasi.

Para pencari ilmu selalu di ibaratkan dengan padi ‘semakin berisi, semakin menunduk’. Bukan semakin berisi menjadi angkuh atau tak berisi malah angkuh dan sombong.  Tidak akan mendapat ilmu bagi orang sombong. Akan hina sehina hinanya. Jadi tak heran pergelutan Senior dan Junior elak di redakan. Yang biasa adu argumen malah adu fisik. Di karenakan minimnya toleran. Dengan kata lain  Junior tidak ada harganya sama sekali bagi Senior.

Sebagai Mahasiswa sejati harus saling menghargai, menghormati dan menjunjung tinggi toleransi selagi tidak keluar dari aturan-aturan yang mengikat. Rosulullah SAW dalam sabdanya “Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. at-Tirmidzi no. 1842 dari shahabat Anas bin Malik). Kita harus berpegang teguh pada etika. Setidaknya berkritiklah dengan kritikan yang baik.

Untuk terealisasinya Tri Dharma Perguruan Tinggi perlu persatuan dan kesatuan di antata  Mahasiswa  Junior maupun Senior dan Civitas Akademik khususnya para yang terhormat para Dosen. Namun, pertanyaannya apakah siap menjadi Mahasiswa seutuhnya? Apakah mampu menjadi Senior? Bagi para Junior (Maba) yang sekarang lambat laun bertransisi ke Senior-an? Kita lihat nanti apa yang akan terjadi!.

Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas IBN Khaldun Bogor

Moeltazam juga Aktifis HMI Cabang Kota Bogor

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar