Suasana audensi ibu dari bayi yang meninggal di RS PMC (Elok Aprianto/jurnalMojo.com)

Audensi Dengan DPRD Jombang, DR Mengaku Melahirkan Tanpa Bantuan Nakes RS PMC

Ketua IDI Jombang, Achmad Iskandar Zulkarnain (Elok Aprianto/jurnalMojo.com)

JOMBANG (jurnalMojo.com) — Audensi dengan komisi D DPRD Jombang, Jawa Timur, DR (27) ibu dari bayi yang meninggal di rumah sakit pelengkap medical center (RS PMC), mengungkapkan sejumlah pengakuan.

Dihadapan Ketua dewan, dan anggota Komisi D, DR mengaku tidak mendapat bantuan dari tenaga medis saat melahirkan bayi perempuannya. Hal inilah yang dianggap DR, membuat bayinya meninggal dunia.

DR menceritakan ia masuk Rumah Sakit Pelengkap Medical Center (RS PMC), Selasa (04/08) pukul 01.30 WIB.

Di rumah sakit swasta itu, DR ditangani pertama kali di ruang IGD. Penangan pertama, pasien tersebut dilakukan rapid test dan hasilnya reaktif.

Lantaran menunjukkan hasil reaktif, DR mengaku ditempatkan di ruang khusus yaitu ruang Darusallam di lantai dua.

Ia menyebut, selama di ruangan itu, dirinya tidak mendapatkan penanganan oleh tenaga medis rumah sakit. Padahal, ia merasa kesakitan dan sudah mengeluarkan air ketuban.

“Saat di IGD itu masih pembukaan satu, air ketuban. Terus ibu dan suami laporan ke perawat katanya ndak papa sudah biasa. Waktu di ruang atas itu, air ketuban terus keluar,” ujar DR di pada saat audensi.

Mengetahui hal itu, DR mengatakan bahwa ibunya sudah berusaha menghubungi perawat.

“Ibu saya bilang ke perawat tapi tetap katanya gak papa gitu, nunggu jam 9 (pagi, red) selesai observasi enam jam,” kata DR.

Namun, ia akhirnya melahirkan anaknya pada pukul 04.30 WIB. Kelahiran anak keduanya ini tanpa bantuan tenaga medis RS PMC.

Bayi yang dilahirkannya itu tidak mengeluarkan suara tangisan. Curiga dengan kondisi bayi, ibu pasien yang mendampingi langsung mendatangi perawat.

“Ketika saya kesakitan perawat terus bilang nanti jam 9 (ditangani, red). Hingga akhirnya keluar bayinya itu pun tidak langsung dilihat, baru setengah jam setelah bayi lahir baru dilihat,” paparnya.

Ia menegaskan jika pada saat lahir, sang bayi tidak menangis. “Kalau menurut saya, waktu bayi lahir itu tidak nangis, seperti mulutnya kemasukan air,” terang DR.

Setelah 30 menit proses kelahiran bayi. Baru ada pertolongan dari perawat dan bidan.
“Kalau itu langsung ditangani, langsung dikasih oksigen, dikasih penghangat ya ndak sampai kayak gitu (meninggal, red),” tukasnya.

Sementara itu, ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang, Achmad Iskandar Zulkarnain, menjelaskan jika dari hasil klarifikasi ibu DR, diketahui beberapa hal.

Ia menyebut jika pada saat yang sama itu terjadi hambatan komunikasi dan jarak. Karena ruang isolasi tadi disampaikan ada di lantai 3. Dan tempat persalinan ada di lantai 1.

“Jadi bidan-bidan itu posisinya berada di lantai satu. Jadi satu masalah jarak tadi,” terang Iskandar.

Untuk hal yang kedua, Iskandar menangkap dari penjelasan DR bahwa, jumlah bidan yang bertugas pada saat proses persalinan berlangsung terbatas.

“Jumlah bidan yang bertugas pada saat itu. Tadi sempat dimunculkan sama beliau (DR, red), si bidannya masih menangani kasus yang lain. Jadi mungkin terjadi over load tugas, jadi itu yang masih kami dalami,” paparnya.

“Dibandingkan tugas yang berjaga, jumlah kasus yang ditangani terlalu banyak,” sambungnya.

Dan yang ketiga, terjadi ketidak akuratan perhitungan kelahiran bayi. Dimana bayi lahir lebih cepat dibandingkan perkiraan pihak rumah sakit. “Diperkirakan siang ternyata kejadian lebih cepat,” kata Iskandar.

Disinggung mengenai standar penatalaksanaan persalinan apakah harus dibantu oleh tenaga medis. Ia menjelaskan bahwa proses persalinan sesuai standar harus ditangani oleh ahli atau tenaga kesehatan.

“Mula-mula tenaga kesehatan saja, terus berubah, harus yang terlatih, terus berubah harus bidan, kemudian harus bidan terlatih. Nah sekarang ini posisinya harus ditolong dengan enam tangan, artinya harus ada tiga orang untuk proses persalinan,” ucapnya.

Lebih lanjut Iskandar mengatakan bahwa proses audit maternal perinartal (AMP) akan dilaksanakan pada Minggu depan.

“Kami masih menunggu, karena AMP itu ada di Dinkes, kami menunggu undangan. Apakah dengan sekali pertemuan apakah clear, belum tentu. Yang jelas akan dicari akar permasalahannya itu apa,” pungkas Iskandar. (elo/jek)

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar