Elok Roudhotul Hikmah*

New Normal Dan Segala ‘Huru-Hara’nya

Oleh : Elok Roudhotul Hikmah*

Saya hampir tidak paham bagaimana ketidakjelasan situasi saat ini. Rasanya terlalu hina ketika saya selaku hamba yang sudah menerima segala bentuk karunia-Nya memilih tuk mengeluh, tapi sayangnya kurang pas juga jika saya selaku manusia biasa yang hidup dalam tatanan realita nyata tapi harus bersikap sok tegar.

New Normal, begitu orang-orang bilang termasuk saya sendiri menyebut situasi saat ini. Namun, dari sekian banyak orang (termasuk saya:red) tak bisa menangkap dengan gamblang maksud New Normal itu sendiri.

Banyak yang berpendapat bahwa New Normal berarti situasi baru dimana kita harus bisa bersahabat dengan segala bentuk serangan dan dampak corona yang tengah mewabah.

Namun sayangnya, ada juga yang mengira bahwa New Normal ini berarti situasi dimana serangan pandemi sudah mulai surut, sehingga aktifitas sehari-hari bisa dilakukan kembali dengan runtut, padahal, tidak demikian !

Istilah New Normal dalam konteks pandemi covid-19, mulai diperdengarkan dan dikonsumsi oleh publik Indonesia pada pertengahan Mei lalu. Hal itu pertama kali disuarakan oleh tim dokter di University of Kansas Health System.

Mereka menyatakan pandemi yang sudah menewaskan lebih dari 350.000 jiwa di seluruh dunia per 27 Mei 2020 akan mengubah tatanan hidup keseharian manusia.

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita, seperti yang dilansir Kompas.com, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Menurut Wiku, prinsip utama dari new normal itu sendiri adalah dapat menyesuaikan dengan pola hidup.
Nge-trend nya istilah New Normal disusul dengan banyak dibukanya sarana, fasilitas dan tempat umum, mulai dari pusat perbelanjaan (Mall), destinasi wisata, hingga tempat peribadatan yang sebelumnya hanya diperuntukkan untuk beberapa orang saja.

Hal itu mendapat respon beragam dari masyarakat luas. Bak burung yang dibukakan pintu oleh pemiliknya, masyarakat langsung berbondong-bondong keluar rumah untuk sejenak merefresh pikiran atau pergi berbelanja menikmati diskon besar-besaran yang digelar oleh beberapa brand produk, yang tentu saja sudah empat bulan terakhir ini tak bisa dirasakan lantaran adanya aturan untuk #dirumahsaja dan rasa takut terhadap corona yang masih tinggi, kala itu.

Disisi lain, respon berbeda juga datang dari jajaran civitas akademika atau para pelaku pendidikan. Jika mall dan destinasi wisata dibuka, bagaimana dengan sekolah ? Ketiganya sama-sama fasilitas umum, bukan ?

Jika di mall dan wisata bisa menggunakan sistem protokol kesehatan, saya rasa di sekolah hal tersebut lebih mungkin untuk diterapkan. Daripada terus menerus membiarkan anak didik larut dalam tugas-tugas yang membingungkan dan bejibun selama belajar online, lebih baik anak-anak diberikan edukasi secara mendalam tentang apa itu corona, dampak, dan pengenalan istilah new normal ini.

Hemat penulis, New Normal ini berarti zona adaptasi terhadap lingkungan, namun dengan penyikapan yang pastinya berbeda dengan situasi sebelum pandemi muncul. Pada zona ini pula kita sudah waktunya untuk survive dan keluar dari zona ketakutan.

Edukasi dan informasi mendetail mengenai masa New Normal ini haruslah menjangkau dan bisa diterima dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.

Mengapa demikian ? Karena hal ini penting, dan teramat penting. Jangan sampai setiap fase yang akan dilalui menimbulkan trauma tersendiri. Cukuplah istilah rapid tes yang pada awal bulan lalu sempat menjadi momok bagi masyarakat, jangan dengan istilah New Normal atau ‘Normal baru’ ini.

Hal ini mutlak tugas dan tanggungjawab bersama. Mulai dari jajaran pemerintahan pusat, anggota legislatif, tokoh agama, hingga masyarakat itu sendiri. Tak terkecuali yakni media massa yang tentu saja memiliki peranan sentral dalam proses peng-edukasian ini.

Sesuai dengan salah satu fungsinya yakni memberikan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan malah membagikan informasi hoaks yang dampaknya malah memperburuk situasi krisis.

*Penulis adalah jurnalis jurnalMojo.com dan mahasiswi Ilmu Komunikasi di Institut Pesantren KH.Abdul Chalim (IKHAC) Pacet.

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar