Akhmad Khoirul Amir*

Jadi Goweser Dadakan dan Punya Sepeda Baru, Bangga atau Malu?

Oleh : Akhmad Khoirul Amir*

Memasuki fase baru dari masa pandemi Covid-19 ini, masyarakat mulai bersiap menyambut tatanan baru New Normal dengan harapan agar wabah ini cepat berakhir. Sejak awal bulan Juni lalu, setelah pemerintah pusat memberi instruksi untuk memberlakukan New Normal di beberapa Kota di Indonesia.

Seperti di Kota Surabaya yang mulai menjalankan masa Transisi menuju New Normal pada tanggal 9 Juni lalu. Sudah hampir seluruh masyarakat mulai melakukan aktifitas seperti biasa diluar rumah, seperti bekerja di kantor, berbelanja ke pasar dan swalayan, hingga ber olahraga. Seperti di Mojokerto sekarang, aktifitas yang sangat digandrungi masyarakat adalah bersepeda atau Gowes. Penjualan di toko sepeda mengalami kenaikan yang drastis karena tren ini. Ya, bersepeda merupakan cara yang unik untuk ber olahraga, karena selain bisa olah raga kita bisa sekaligus berwisata menikmati suasana disekitar.

Tren bersepeda gowes ini sangat ramai sejak pandemi Covid-19 ini, entah memang karena masyarakat ingin beralih media transportasi, olahraga, atau sekedar ikuti tren saja. Tetapi satu hal yang pasti, bersepeda sedang digemari luar biasa oleh masyarakat saat ini. Namun, ternyata ada yang merasa terganggu loh dengan tingkah laku goweser ini. Mengamati apa yang sedang terjadi di Media Sosial saat ini yakni dari beberapa Komunitas Sosial Mojokerto di Facebook dan Instagram, masih banyak postingan dan komentar dari warganet yang mengeluhkan ulah para goweser ini.

Mereka mencurahkan keresahan yang beragam, mulai dari tingkah mereka yang melakukan gowes dengan kelompoknya secara bergerombol atau berjajar hingga memenuhi ruas jalan yang digunakan pengendara motor dan mobil di jalan raya, selain itu mereka juga diklaim tidak mematuhi lalu lintas yang ada di jalan raya ketika di ingatkan oleh pengendara motor lain mereka tidak peduli bahkan tidak jarang mereka melawan si pengendara motor itu. Yah, mentang-mentang sepedanya baru beli dan mungkin dianggap hanya sepedanya yang paling mahal. Masih beranggapan bahwa bersepeda itu nggak mengeluarkan polusi, sehingga merasa derajatnya di atas para pengguna kendaraan bermotor. Jika menggunakan pemahaman yang sama, seharusnya pejalan kaki mendapatkan derajat yang paling tinggi.

Sehingga jika ada pejalan kaki yang menyeberang tanpa lihat kanan-kiri, seharusnya semua yang sedang melintas harus berhenti sejenak dan salim dong. Tapi nyatanya, enggak juga, kan?. Karena baik itu pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna kendaraan lainnya menggunakan ruang publik. Maka tanpa pandang bulu, semuanya harus saling menghormati dan beretika. Tidak hanya itu warganet juga mengeluhkan tingkah pesepeda yang tidak mengenal waktu, bahkan malam hari pun tetap melakukan gowes saja sepeda nya. Kalau di kondisi penerangan jalan yang kurang, tentunya akan membahayakan orang lain khususnya pengendara motor atau mobil yang melintas.

Terlepas dari hal itu sebenarnya ada etika bersepeda yang harus di indahkan oleh goweser, ketika bersepeda di jalan raya, hal yang paling penting adalah harus tertib. Nilai ketertiban erat kaitannya dengan persoalan teknis, misalnya jangan bersepeda di tengah jalan, jangan memakan satu jalur untuk berdua apalagi bertiga, serta patuhi segala peraturan lalu lintas yang ada. Pemerintahan juga sudah membangun jalur tersendiri yang bisa dilewati oleh sepeda, tentunya goweser harus tertib dan patuh jika di jalan raya.

Ketika, berada di jalan umum dan tidak ada jalur sepedanya, maka yang harus dilakukan adalah usahakan kita bisa terlihat jelas oleh pengendara motor dan mobil yang ada didepan dan dibelakang kita. Jika ketertiban sudah dijunjung tinggi lalu nilai keamanan akan mengikuti, misalnya, jika sering gowes di malam hari, usahakan pasang lampu sebagai penanda gunakan pakaian yang terang atau glow in the dark agar semua pengguna jalan mengetahui keberadaan kita, selalu perhatikan jalan raya saat ingin menyebrang, jangan belok sembarangan, dan gunakan selalu perlengkapan keamanan seperti pelindung kepala, kaki , lutut, dan siku, jika sedang gowes dengan kelompok pastikan ada koordinator penjaga yang ada di bagian paling depan, tengah, dan paling belakang yang bisa bertanggung jawab ketika perjalanan gowes kelompok dilakukan.

Dengan adanya tren bersepeda atau Gowes ini, membawa permasalahan baru. Jadi, pihak berwajib yang mengatur lalu lintas juga berhak menertibkan pengguna jalan baik sepeda motor atau sepeda gowes agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan, harus ada peraturan yang bisa menertibkan pengguna sepeda gowes di jalan raya, sehingga meskipun diberi peraturan tapi tetap bisa gowes aman di jalan raya. Dan, yang paling penting adalah kesadaran kita sebagai pengguna jalan, harus bisa menjaga etika dengan pengguna jalan lain, pejalan kaki, sepeda gowes, dan motor. Nah, kamu termasuk goweser dadakan nggak? Tetap jaga etika dan keamanan bersepeda yah. Jangan lupa patuhi peraturan lalu lintas dan hargai sesama.

*Penulis adalah Mahasiswa Fisip Ilmu Komunikasi UNIM
Tinggal di Dusun Mengungkung, 04/01, Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. No hp : 085731396569 Email : khoirulamir18@gmail.com

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar