Kata dan Makna Sebagai Kunci

Oleh : Cahya Suryani S.IP.M.A

Linimasa kembali ramai dengan postingan-postingan segala hal yang bernama covid-19. Sudah hampir 3 bulan sejak ditemukannya virus covid-19 pemerintah dan komunitas mensosialisasikan mengenai penyakit ini. selain itu, pemerintah pun mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 salah satu beraktivitas di rumah. 30 maret 2020 Presiden Jokowi mengumumkan kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi penyebaran virus ini, sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) no 21 Tahun 2020 dan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 mengenai Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19. Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut maka masyarakat kembali bergejolak,memberikan respon melalui tulisan-tulisan di media sosial.

Sejak di umumkannya pandemi covid-19 telah terjadi masalah dalam hal komunikasi. pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh pemerintah hampir seringkali mendapatkan respon negatif. Pernyataan menteri kesehatan di awal-awal sebelum terdeteksi covid-19 juga jadi sebuah problem yang ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Selain itu Pernyataan presiden saat mengisi acara mata najwa mengenai dilarang mudik tapi dapat pulang kampung juga mendapatkan respon pro dan kontra juga, lagi dan lagi keramaian terjadi di linimasa. Pendapat masyarakat terbagi menjadi dua, masyarakat yang paham arti perbedaan mudik dan pulang kampung, dan masyarakat yang menganggap mudik dan pulang kampung itu sama. seiring dengan pernyataan tersebut juga keluar kebijakan pemberhentian operasional sarana transportasi dalam negeri.

Namun, pada tanggal 7 mei 2020 menteri perhubungan mengeluarkan kebijakan kontradiktif yaitu membuka kembali operasional moda transportasi bagi “bukan” pemudik. Masyarakat dapat berpergian dengan memenuhi syarat-syarat dan kewajiban yang telah ditetapkan. Kebijakan ini langsung menuai protes masyarakat terutama pengguna media sosial. sebagaian respon masyarakat kecewa atas kebijakan tersebut. Namun di satu sisi, Pernyataan menteri perhubungan mengenai di bukanya operasional transportasi di tengah masa PSBB memberikan angin segar bagi masyarakat yang ingin “mudik”. pada awal dibukanya operasional trasnportasi, hampir semua media online meliput fenomena membeludaknya penumpang di bandara Soetta yang di penuhi oleh penumpang yang akan berpergian. hal ini membentuk persepsi masyarakat mengenai penanganan pandemi ini.

Selain itu juga pernyataan presiden mengenai hidup berdamai dengan covid-19, di artikan sebagai hidup kembali seperti semula. Hal ini dapat terlihat dengan semakin ramainya pusat perbelanjaan baik mall maupun pasar. Dimana masyarakat kembali berkegiatan seperti biasa sebelum terjadinya covid-19, banyak dijumpai warga yang keluar rumah tanpa menggunakan masker, dan terjadinya kerumunan-kerumunan. Hal ini terjadi karena kurang ada penjelasan yang detail mengenai pernyataan yang disampaikan oleh pemerintah. Kebijakan-kebijakan yang disampaikan oleh pemerintah dipersepsikan oleh masyarakat sebagai bentuk tidak empatinya pemerintah terhadap masyarakat.

saat pernyataan Presiden mengenai “Hidup berdamai dengan covid-19” masyarakat mengartikan bahwa kehidupan akan kembali normal. persepsi ini keliru karena kurangnya penjelasan mengenai makna dari hidup berdamai. pelurusan komunikasi pun terjadi, hidup berdamai bukan berarti hidup kembali normal seperti sebelum terjadinya covid-19. Namun masyarakat harus bersiap dengan kehidupan normal yang baru, dimana kegiatan sehari-hari akan kembali seperti semula tapi dengan memenuhi standar protokoler kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Standar protokoler seperti kewajiban mengenai penggunaan masker saat diluar rumah, rajin mencuci tangan, tidak memegang bagian wajah sebelum cuci tangan, menyediakan handsanitiser, menjaga jarak dan tidak berkumpul dalam satu tempat.

Salah satu hal yang mendasar dari kehidupan adalah komunikasi. komunikasi dapat memberi nilai positif ataupun negatif. Umumnya sebuah masalah terjadi karena komunikasi yang kurang atau komunikasi yang disepelekan. Semua individu dapat berkomunikasi, semua individu dapat menyuarakan pendapat namun tidak semua individu dapat berkomunikasi secara efektif. Komunikasi yang efektif merupakan komunikasi yang dapat membawa perubahan sikap pada individu yang terlihat saat berkomunikasi maupun sesudah komunikasi terjadi atau dengan kata lain komunikasi efektif terjadi apabila pesan yang disampaikan komunikator dapat diterima dengan baik sehingga tidak terjadi salam persepsi. Komunikasi efektif dapat terjadi apabila komunikator dan komunikan menangkap pesan yang sama dalam proses komunikasi. Dalam hal ini pemerintah tidak melakukan komunikasi yang efektif dalam penyampaian kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan pandemi Covid-19 ini, hal ini terlihat dari respon masyarakat khususnya pengguna media sosial yang menumpahkan respon kontra melalui status dan cuitan-cuitan.

Komunikasi yang efektif berhubungan langsung dengan pemilihan kata dalam menyampaikan sebuah pesan. Sebagai contoh untuk pemilihan kata hidup berdamai atau berdampingan,untuk saya pribadi lebih memilih menggunakan kalimat hidup berdampingan dengan covid-19 daripada kalimat berdamai dengan covid-19. Saat menggunakan kata berdamai lawan katanya adalah bermusuhan dalam sebuah peperangan. Dalam peperangan ada pihak yang menang ataupun kalah. Sedangkan pemilihan kata hidup berdampingan, berarti kita sadar bahwa ada virus covid-19 disekitar kita, kita sadar setiap saat bisa saja kita terinveksi virus ini lengah tidak menjalankan protokoler kesehatan. Sadar dan paham bahwa kehidupan normal yang baru akan segera hadir, dan kita harus segera beradaptasi. Seperti kalimat, eling lan waspada. Saat beraktivitas kita harus ingat menjalankan protokoler kesehatan dan waspada terhadap lingkungan sekitar.

Komunikasi merupakan salah satu komponen dasar yang dapat menentukan sebuah perubahan sikap. komunikasi efektif dengan hati adalah kunci agar kita segera beradaptasi dengan kehidupan normal yang baru tanpa adanya pergelutan online..

*Penulis adalah Pengamat Psikologi Komunikasi dan media sosial

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar