Media Online, Jangan Ada Berita yang Salah Ketik

Oleh: Slamet Widodo*

Jumat Pagi, 08 Mei 2020, sekira pukul 06.30. Saya membuka Grup Whatsapp yang saya ikuti. Salah satu anggota grup mengirimkan sebuah pesan. Isinya tautan (link) berita di sebuah media Online. Judul beritanya cukup menarik. Membuat saya dan pembaca pada umumnya, penasaran untuk segera mengeklik tautan tersebut dan membukanya. Benar, akhirnya saya klik juga. Lalu saya baca sampai selesai.

Setelah saya baca, saya menemukan ada banyak kata yang salah ketik. Terutama kata yang berimbuhan di-. Imbuhan di- yang menyatakan tempat dan seharusnya penulisannya dipisah, justru malah disambung. Begitu pun sebaliknya.

Sangat disayangkan sebuah media _mainstream_, namun banyak didapati tulisan yang salah ketik, juga belum tepat dalam penulisan juga tanda bacanya. Seharusnya, sebelum diunggah, sebuah berita harus melalui proses editing ketat pada redaktur. Tujuannya untuk meminimalisir kesalahan pengetikan.

Salah satu tujuan utama sebuah media, di samping memberi informasi berimbang, akurat dan bukan hoax, adalah mengedukasi masyarakat (pembaca). Termasuk menuliskan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Jadi, kesalahan sekecil apapun yang terjadi pada media mainstream akan sangat terlihat jelas dan berdampak besar.

Pernah saya membaca sebuah berita di koran. Pada edisi tertentu ada berita yang salah ketik. Maka pada edisi berikutnya ada ralat dan pembetulan dari berita tersebut. Lalu diikuti permintaan maaf dari redaksi.

Kita tahu, media online berusaha menyampaikan berita secara real time. Kejadian pada hari itu dan jam tertentu, langsung ditulis dan diposting pada waktu tersebut. Mereka berlomba-lomba menjadi yang tercepat dalam menyampaikan berita kepada pembaca.

Guna mendukung hal tersebut di atas, media online memiliki banyak kontributor yang tersebar di mana-mana. Selain wartawan yang dimiliki media tersebut, biasanya kontributornya juga dari berbagai kalangan. Tentunya, kontributor tersebut belum semuanya memiliki kemampuan menulis dengan baik. (Minimal ilmu tentang menulis berita). Karena itu banyak dijumpai kesalahan penulisan di sana-sini.

Agar menghasilkan berita yang baik, akurat, real time, dan berimbang, setelah menulis berita, kontributor harus mengedit tulisannya sendiri.

Meminjam istilah yang ditulis Zumro Assa’dah, penulis asal Lamongan, self editing, namanya.

Menurut salah satu anggota komunitas Kita Belajar Menulis ini, self editing atau yang disebut juga dengan swasunting merupakan proses memperbaiki/mengedit naskah yang dilakukan oleh seorang penulis terhadap hasil karyanya sendiri.

Guru MAN 1 Lamongan ini menambahkan, proses editing bukan semata-mata tanggung jawab seorang editor, tetapi penulis sendiri mempunyai kewenangan untuk melakukan proses editing.

Nah, artinya agar bisa menghasilkan tulisan bagus dan bisa mengedit tulisan sendiri, penulis harus banyak belajar tentang literasi (baca tulis).

Kepohbaru, Bojonegoro 09 Mei 2020

*) Penulis adalah Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar