X
    Categories: Kriminal

Polda Jatim Gerebek Sarang Hacker Beromzet Milyaran

Polisi saat mengerebek lokasi para hacker menjalankan aksinya dalam kasus pembobolan kartu kredit beromzet milyaran rupiah (foto/istimewa)

SURABAYA (jurnalMojo.com) – Sebuah ruko yang dijadikan tempat persembunyian hacker atau peretas spesialis bobol kartu kredit beromzet milyaran rupiah, yang berlokasi di Jalan Balongsari Tama Blok C-1, Surabaya, Selasa (3/12) siang digerebek Unit Cyber Crime Polda Jatim. Dari penggerebekan itu, polisi mengamankan 20 hacker yang mayoritas lulusan SMK.

Berdasarkan informasi yang himpun, penggerebekan itu dilakukan setelah petugas mendapat informasi dari masyarakat terkait aktivitas kejahatan tersebut. Setelah diselidiki, ternyata benar.

“Awalnya kita dapat informasi, lalu kita lakukan penindakan terhadap jaringan tindak pidana menggunakan ITE atau yang biasa disebut skimming menggunakan kartu kredit untuk melakukan penipuan,” ungkap Ditreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Gideon Arif Setyawan.

Selain mengamankan 20 orang peretas pembobol kartu kredit, kata Gideon, timnya juga menyita sejumlah barang bukti, diantaranya 23 PC (komputer), 29 monitor, 20 telepon genggam, dan puluhan rekening bank.

“Kegiatan peretasan atau pembobolan kartu kredit ini sudah dilakukan komplotan tersebut selama tiga tahun. Kegiatan ini sudah terorganisasi,” jelasnya.

Para peretas, lanjut Gideon, kartu kredit tersebut bisa mendapatkan uang sebanyak 40 ribu dolar AS dalam sebulan dari hasil skimming di Amerika Serikat dan Eropa.

“Omzet kurang lebih 40 ribu dolar AS lebih. Kalau pelaku ITE itu pasti borderless dan sasaran mereka di Amerika dan Eropa,” sambungnya.

Ia menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut untuk mengungkap lebih jauh modus dan jaringannya. “Sementara karena belum 1×24 jam, ini baru kita lakukan pendalaman. Besok akan kami sampaikan lebih lengkap,” tandasnya.

Salah seorang pelaku berinisial HN mengaku, setiap pekerja mempunyai peran masing-masing. Mulai dari pembeli domain, spammer, develop akun, hingga eksekutor yang mencuri data kartu kredit milik nasabah bank.

Dalam sindikat ini, HN sendiri hanya bertugas sebagai develop akun atau pembuat akun yang menunjang kinerja eksekutor untuk membobol kartu kredit milik nasabah asing. Sementara i-p akun yang digunakan sengaja menggunakan i-p asing, seperti amerika, itali dan sebagainya. Dikarenakan apabila menggunakan i-p indonesia, mudah terdeteksi dan memerlukan verifikasi nomor handphone.

“Lulus SMK, yang ngajarin bos. Saya bagian developer dari us sistemnya gitu, nggak dikasih tau cuman suruh ngerjain. Perbulan saya digaji Rp 1 juta. Satu hari bisa develop 10,” ungkapnya.

Sementara itu, Zaini, Ketua RW 5 Balongsari mengaku bahwa dirinya tidak mengetahui bahwa salah satu rumah warganya digunakan untuk tempat operasi sekaligus persembunyian para hacker yang pekerjaannya membobol kartu kredit.

Yang ia ketahui, lokasi penggerebekan tersebut hanya membuka toko kelontong, dan ketika malam hari aktifitasnya memang banyak anak muda yang lalu lalang masuk ruko.

“Sebelumnya nggak tahu, nggak tahu kalau tempat ini dijadikan sarang hacker. Yang saya tahu hanya toko meracang, atau keperluan sehari-hari, di atas nggak tahu ada mesnya. Kalau anak-anak muda yang tahu biasanya malem, kok sepeda motor banyak. Tahunya malam, penghuninya nggak pernah laporan ke RW,” terangnya.

Dari pengungkapan kasus ini, para pelaku hacker bakal terancam pasal 35 dan pasal 51 ayat 1 Undang-Undang ITE, yang ancaman hukumannya maksimal 12 tahun penjara atau denda paling banyak 12 milyar rupiah. (ahm/jek) 

Bagikan Ini

Komentar Anda

Komentar

Deaz Terengganu: